PARADIGMA IDEALISME DALAM MENENTUKAN KEBENARAN DAN MAKSUD DARI IDE TERTINGGI
Kamis, 18 Desember 2014
filsafat : tokoh-tokoh filsafat islam dan pemikirannya
Tokoh-tokoh
Filsafat Islam dan Pemikirannya
A.
Al-Kindi
1. Sejarah Hidup
Al-Kindi, nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’kub ibnu Ishaq
ibnu al-Shabbah ibnu ‘Imron ibnu Muhammad ibnu al-Asy’as ibnu Qais al-Kindi. Kindah
merupakan suatu nama kabilah terkemuka pra-Islam yang merupakan cabang
dari Bani Kahlan yang menetap di Yaman. Kabilah ini pulalah yang melahirkan
seorang tokoh sastrawan yang terbesar kesusasteraan Arab, sang penyair pangeran
Imr Al-Qais, yang gagal untuk memulihkan tahta kerajaan Kindah setelah
pembunuhan ayahnya.
Al-Kindi dilahirkan di Kufah sekitar tahun 185 H dari
keluarga kaya dan terhormat. Ayahnya, Ishaq ibnu Al- Shabbah, adalah gubernur
Kufah pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan Ar-Rasyid. Al-kindi sendiri mengalami
masa pemerintahan lima khalifah Bani Abbas, yakni Al-Amin, Al-Ma’mun,
Al-Mu’tasim, Al- Wasiq, dan Al-Mutawakkil.
Dalam hal pendidikan Al-Kindi pindah dari Kufah ke Basrah,
sebuah pusat studi bahasa dan teologi Islam. Dan ia pernah menetap di
Baghdad, ibukota kerajaan Bani Abbas, yang juga sebagai jantung kehidupan
intelektual pada masa itu. Ia sangat tekun mempelajari berbagai disiplin
ilmu. Oleh karena itu tidak heran jika ia dapat menguasai ilmu astronomi,ilmu
ukur, ilmu alam, astrologi, ilmu pasti, ilmu seni musik meteorologi,, optika,
kedokteran, matematika, filsafat, dan politik. Penguasaannya terhadap filsafat
dan ilmu lainnya telah menempatkan ia menjadi orang Islam pertama yang
berkebangsaan Arab dalam jajaran filosof terkemuka. Karena itu pulalah ia
dinilai pantas menyandang gelar Faiasuf al-‘Arab ( filosof berkebangsaan Arab).
2. Filsafat atau Pemikirannya
a. Talfiq
Al-Kindi berusaha memadukan (talfiq) antara agama dan
filsafat. Menurutya filsafat adalah pengetahuan yang benar ( knowledge of
truth). Al-Qur’an yang membawa argumen-argumen yang lebih meyakinkan dan benar
tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran yang dihasilkan oleh filsafat.
Karena itu mempelajari filsafat dan berfilsafat tidak dilarang bahkan teologi
bagian dari filsafat, sedangkan umat Islam diwajibkan mempelajari teologi.
Bertemunya agama dan filsafat dalam kebenaran dan kebaikan sekaligus menjadi
tujuan dari keduanya. Agama disamping wahyu mempergunakan akal, dan
filsafat juga mempergunakan akal. Yang benar pertama bagi Al-Kindi ialah Tuhan.
Filsafat dengan demikian membahas tentang Tuhan dan agama ini pulalah dasarnya.
Filsafat yang paling tinggi ialah filsafat tentang Tuhan.
Dengan demikian, orang yang menolak filsafat maka orang itu
menurut Al-Kindi telah mengingkari kebenaran, kendatipun ia menganggap dirinya
paling benar. Disamping itu, karena pengetahuan tentang kebenaran termasuk
pengetahuan tentang Tuhan, tentang ke-Esaan-Nya, tentang apa yang baik dan
berguna, dan juga sebagai alat untuk berpegang teguh kepadanya dan untuk
menghindari hal-hal sebaliknya. Kita harus menyambut dengan gembira kebenaran
dari manapun datangnya. Sebab, “tidak ada yang lebih berharga bagi para pencari
kebenaran daripada kebenaran itu sendiri”. Karena itu tidak tidak wajar
merendahkan dan meremehkan orang yang mengatakan dan mengajarkannya. Tidak ada
seorang pun akan rendah dengan sebab kebenaran, sebaliknya semua orang akan
menjadi mulia karena kebenaran. Jika diibaratkan maka orang yang mengingkari
kebenaran tersebut tidak beda dengan orang yang memperdagangkan agama, dan pada
akikatnya orang itu tidak lagi beragama.
Pengingkaran terhadap hasil-hasil filsafat karena adanya
hal-hal yang bertentangan dengan apa yang menurut mereka telah mutlak
digariskan Al-Qur’an. Hal semacam ini menurut Al-Kindi, tidak dapat dijadikan
alasan untuk menolak filsafat, karena hal itu dapat dilakukan ta’wil. Namun
demikian, tidak bisa dipungkiri perbedaaan antara keduanya, yaitu:
1) Filsafat termasuk humaniora
yang dicapai filosof dengan berpikir, belajar, sedangkan agama adalah ilmu
ketuhanan yang menempati tingkat tertinggi karena diperoleh tanpa melalui
proses belajar, dan hanya diterima secara langsung oleh para Rasul dalam bentuk
wahyu.
2) Jawaban filsafat menunjukan
ketidakpastian ( semu ) dan memerlukan berpikir atau perenungan. Sedangkan
agama lewat dalil-dalilnya yang dibawa Al-Qur’an memberi jawaban secara pasti
dan menyakinkan dengan mutlak.
3) Filsafat mempergunakan
metode logika, sedangkan agama mendekatinya dengan keimanan.
Walaupun Al-Kindi termasuk pengikut rasionalisme dalam arti
umum, tetapi ia tidak mendewa-dewakan akal.
b. Jiwa
Tentang jiwa, menurut Al-Kindi; tidak tersusun, mempunyai
arti penting, sempurna dan mulia. Substansi ruh berasal dari substansi Tuhan.
Hubungan ruh dengan Tuhan sama dengan hubungan cahaya dengan matahari. Selain
itu jiwa bersifat spiritual, ilahiah, terpisah dan berbeda dari tubuh.
Sedangkan jisim mempunyai sifat hawa nafsu dan pemarah. Antara jiwa dan jisim,
kendatipun berbeda tetapi saling berhubungan dan saling memberi bimbingan.
Argumen yang diajukan Al-Kindi tentang perlainan ruh dari badan ialah ruh
menentang keinginan hawa nafsu dan pemarah. Sudah jelas bahwa yang melarang
tidak sama dengan yang dilarang.
Dengan pendapat Al-Kindi tersebut, ia lebih dekat kepada
pemikiran Plato ketimbang pendapat Aristoteles. Aristoteles mengatakan bahwa
jiwa adalah baharu, karena jiwa adalah bentuk bagi badan. Bentuk tidak bisa
tinggal tanpa materi, keduanya membentuk kesatuan isensial, dan kemusnahan
badan membawa kepada kemusnahan jiwa. Sedangkan Plato berpendapat bahwa
kesatuan antara jiwa dan badan adalah kesatuan accidental dan temporer.
Binasanya badan tidak mengakibatkan lenyapnya jiwa. Namun Al-Kindi tidak
menyetujui Plato yang mengatakan bahwa jiwa berasal dari alam ide. Al-Kindi
berpendapat bahwa jiwa mempunyai tiga daya, yakni: daya bernafsu, daya pemarah,
dan daya berpikir. Kendatipun bagi Al-Kindi jiwa adalah qadim, namun
keqadimannya berbeda dengan qadimnya Tuhan. Qadimnya jiwa karena diqadimkan
oleh Tuhan.
3. Moral
Menurut Al-Kindi, filsafat harus memperdalam pengetahuan
manusia tentang diri dan bahwa sorang filosof wajib menempuh hidup susila.
Kebijaksanaan tidak dicari untuk diri sendiri (Aristoteles), melainkan untuk
hidup bahagia. Al-Kindi mengecam para ulama yang memperdagangkan agama untuk
memperkaya diri dan para filosof yang memperlihatkan jiwa kebinatangan untuk
mempertahankan kedudukannya dalam negara. Ia merasa diri korban kelaliman
negara seperti Socrates. Dalam kesesakkan jiwa filsafat menghiburnya dan
mengarahkannya untuk melatih kekangan, keberanian dan hikmak dalam keseimbangan
sebagai keutamaan pribadi, tetapi pula keadilan untuk meningkatkan tata negara.
Sebagai filsuf, Al-Kindi prihatin kalau-kalau syari’at kurang menjamin
perkembangan kepribadian secara wajar. Karena itu dalam akhlak atau moral dia
mengutamakan kaedah Socrates.
B.
Al-Farabi
1.
Biografi
Nama lengkapnya Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan
ibn Auzalagh. Dikalangan orang-orang latin abad tengah, Al-Farabi lebih dikenal
dengan Abu Nashr. Ia lahir di Wasij, Distrik Farab (sekarang kota Atrar),
Turkistan pada 257 H. Pada tahun 330 H, ia pindah ke Damaskus dan berkenalan
dengan Saif al-Daulah al-Hamdan, sultan dinasti Hamdan di Allepo. Sultan
memberinya kedudukan sebagai seorang ulama istana dengan tunjangan yang sangat
besar, tetapi Al-Farabi memilih hidup sederhana dan tidak tertarik dengan
kemewahan dan kekayaan. Al-Farabi dikenal sebagai filsuf Islam terbesar,
memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsafat secara
utuh dan menyeluruh serta mengupasnya secara sempurna, sehingga filsuf yang
datang sesudahnya, seperti Ibnu Sina dan Ibn Rusyd banyak mengambil dan
mengupas sistem filsafatnya.
2. Pemikirannya
a)
Pemaduan Filsafat
Al-Farabi berusaha memadukan beberapa aliran filsafat
yang berkembang sebelumnya terutama pemikiran Plato, Aristoteles, dan Plotinus,
juga antara agama dan filsafat. Karena itu ia dikenal filsuf sinkretisme yang
mempercayai kesatuan filsafat. Dalam ilmu logika dan fisika, ia dipengaruhi
oleh Aristoteles. Dalam masalah akhlak dan politik, ia dipengaruhi oleh Plato.
Sedangkan dalam hal matematika, ia dipengaruhi oleh Plotinus.
Untuk mempertemukan dua filsafat yang berbeda seperti dua
halnya Plato dan Aristoteles mengenai idea. Aristoteles tidak mengakui bahwa
hakikat itu adalah idea, karena apabila hal itu diterima berarti alam realitas
ini tidak lebih dari alam khayal atau sebatas pemikiran saja. Sedangkan Plato
mengakui idea merupakan satu hal yang berdiri sendiri dan menjadi hakikat
segala-galanya. Al-Farabi menggunakan interpretasi batini, yakni dengan
menggunakan ta’wil bila menjumpai pertentangan pikiran antara kedanya. Menurut
Al-Farabi, sebenarnya Aristoteles mengakui alam rohani yang terdapat diluar
alam ini. Jadi kedua filsuf tersebut sama-sama mengakui adanya idea-idea pada
zat Tuhan. Kalaupun terdapat perbedaan, maka hal itu tidak lebih dari tiga
kemungkinan:
1) Definisi yang dibuat
tentang filsafat tidak benar
2) Adanya kekeliruan dalam
pengetahuan orang-orang yang menduga bahwa antara keduanya terdapat perbedaan
dalam dasa-dasar falsafi.
3) Pengetahuan tentang adanya
perbedaan antara keduanya tidak benar, padahal definisi keduanya tidaklah
berbeda, yaitu suatu ilmu yang membahas tentang yang ada secara mutlak.
Adapun perbedaan agama dengan filsafat, tidak mesti ada
karena keduanya mengacu kepada kebenaran, dan kebenaran itu hanya satu,
kendatipun posisi dan cara memperoleh kebenran itu berbeda, satu menawarkan
kebenaran dan lainnya mencari kebenaran. Kalaupun terdapat perbedaan kebenaran
antara keduanya tidaklah pada hakikatnya, dan untuk menghindari itu digunakab
ta’wil filosofis. Dengan demikian, filsafat Yunani tidak bertentangan secara
hakikat dengan ajaran Islam, hal ini tidak berarti Al-farabi mengagungkan
filsafat dari agama. Ia tetap mengakui bahwa ajaran Islam mutlak kebenarannya.
b) Jiwa
Adapun jiwa, Al-Farabi juga dipengaruhi oleh filsafat
Plato, Aristoteles dan Plotinus. Jiwa bersifat ruhani, bukan materi, terwujud
setelah adanya badan dan tidak berpindah-pindah dari suatu badan ke badan lain.
Kesatuan antara jiwa dan jasad merupakan kesatuan secara accident, artinya
antara keduanya mempunyai substansi yang berbeda dan binasanya jasad tidak
membawa binasanya jiwa. Jiwa manusia disebut al-nafs al-nathiqah, yang berasal
dari alam ilahi, sedangkan jasad berasal dari alam khalq, berbentuk, beruapa,
berkadar, dan bergerak. Jiwa diciptakan tatkala jasad siap menerimanya.
Mengenai keabadian jiwa, Al-Farabi membedakan antara jiwa
kholidah dan jiwa fana. Jiwa khalidah yaitu jiwa yang mengetahui kebaikan dan
berbuat baik, serta dapat melepaskan diri dari ikatan jasmani. Jiwa ini tidak
hancur dengan hancurnya badan.
c)
Politik
Pemikiran Al-Farabi lainnya yang sangat penting adalah
tentang politik yang dia tuangkan dalam karyanya, al-Siyasah al- Madiniyyah
(Pemerintahan Politik) dan ara’ al-Madinah al-Fadhilah (Pendapat-pendapat
tentang Negara Utama) banyak dipengaruhi oleh konsep Plato yang menyamakan
negara dengan tubuh manusia. Ada kepala, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya
yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu. Yang paling penting dalam tubuh
manusia adalah kepala, karena kepalalah (otak) segala perbuatan manusia
dikendalikan, sedangkan untuk mengendalikan kerja otak dilakukan oleh
hati. Demikian juga dalam negara. Menurut Al-Farabi yang amat penting dalam
negara adalah pimpinannya atau penguasanya, bersama-sama dengan bawahannya sebagai
mana halnya jantung dan organ-organ tubuh yang lebih rendah secara
berturut-turut. Pengusa ini harus orang yang lebih unggul baik dalam bidang
intelektual maupun moralnya diantara yang ada. Disamping daya profetik yang
dikaruniakan Tuhan kepadanya, ia harus memilki kualitas-kualitas berupa:
kecerdasan, ingatan yang baik, pikiran yang tajam, cinta pada pengetahuan,
sikap moderat dalam hal makanan, minuman, dan seks, cinta pada kejujuran,
kemurahan hati, kesederhanaan, cinta pada keadilan, ketegaran dan keberanian,
serta kesehatan jasmani dan kefasihan berbicara.
Tentu saja sangat jarang orang yang memiliki semua kualitas
luhur tersebut, kalau terdapat lebih dari satu, maka menurut Al-Farabi yang
diangkat menjadi kepala negara seorang saja, sedangkan yang lain menanti
gilirannya. Tetapi jika tidak terdapat seorang pun yang memiliki secara utuh.
Dua belas atribut tersebut, pemimpin negara dapat dipikul secara kolektif
antara sejumlah warga negara yang termasuk kelas pemimpin.
Pemikiran Al-Farabi tentang kenegaraan terkesan ideal
sebagaimana halnya konsepsi yang ditawarkan oleh Plato. Hal ini dimungkinkan,
Al-Farabi tidak pernah memangku suatu jabatan pemerintahan, ia lebih menyenangi
berkhalawat, menyendiri, sehingga ia tidak mempunyai peluang untuk belajar dari
pengalaman dalam pengelolaan urusan kenegaraan. Kemungkinan lain yang
melatarbelakangi pemikiran Al-Farabi itu adalah situasi pada waktu itu,
kekuasaan Abbassiyah diguncangkan oleh berbagai gejolak, pertentangan dan
pemberontakan.
C.
Ibnu Sina
1. Biografi
Nama lengkapnya Abu Ali al- Husien ibn Abdullah ibn Hasan
ibn Ali ibn Sina. Ia dilahirkan didesa Afsyanah, dekat Buhkara, Persia Utara
pada 370 H. Ia mempunyai kecerdasan dan ingatan yang luar biasa sehingga dalam
usia 10 tahun telah mampu menghafal Al-Qur’an, sebagian besar sastra Arab dan
juga hafal kitab metafisika karangan Aristoteles setelah dibacanya empat puluh
kali. Pada usia 16 tahun ia telah banyak menguasai ilmu pengetahuan, sastra
arab, fikih, ilmu hitung, ilmu ukur, filsafat dan bahkan ilmu kedokteran
dipelajarinnya sendiri.
2.
Pemikirannya
a)
Kenabian
Sejalan dengan teori kenabian dan kemukjizatan, ibnu Sina
membagi manusia kedalam empat kelompok: mereka yang kecakapan teoretisnya
telah mencapai tingkat penyempurnaan yang sedemikian rupa sehingga mereka tidak
lagi membutuhkan guru sebangsa manusia, sedangkan kecakapan praktisnya telah
mencapai suatu puncak yang demikian rupa sehingga berkat kecakapan imajinatif
mereka yang tajam mereka mengambil bagian secara langsung pengetahuan
tentang peristiwa-peristiwa masa kini dan akan datang. Kemudian mereka memiliki
kesempurnaan daya intuitif, tetapi tidak mempunyai daya imajinatif. Lalu orang
yang daya teoretisnya sempurna tetapi tidak praktis. Terakhir adalah orang yang
mengungguli sesamanya hanya dalam ketajaman daya praktis mereka.
Nabi Muhammad memiliki syarat-syarat yang dibutuhkan seorang
Nabi, yaitu memiliki imajinasi yang sangat kuat dan hidup, bahkan fisiknya
sedemikian kuat sehingga ia mampu mempengaruhi bukan hanya pikiran orang lain,
melainkan juga seluruh materi pada umumnya. Dengan imajinatif yang luar biasa
kuatnya, pikiran Nabi, melalui keniscayaan psikologis yang mendorong, mengubah
kebenaran-kebenaran akal murni dan konsep-konsep menjadi imaji-imaji dan simbol-simbol
kehidupan yang demikian kuat sehingga orang yang mendengar atau membacanya
tidak hanya menjadi percaya tetapi juga terdorong untuk berbuat sesuatu.
Apabila kita lapar atau haus, imajinasi kita menyuguhkan imaji-imaji yang hidup
tentang makanan dan minuman. Pelambangan dan pemberi sugesti ini, apabila ini
berlaku pada akal dan jiwa Nabi, menimbulkan imaji-imaji yang kuat dan hidup
sehingga apapun yang dipikirkan dan dirasakan oleh jiwa Nabi, ia benar-benar
mendengar dan melihatnya.
b) Tasawuf
Tasawuf, menurut ibnu Sina tidak dimulai dengan zuhud,
beribadah dan meninggalkan keduniaan sebagaimana yang dilakukan orag-orang sufi
sebelumnya. Ia memulai tasawuf dengan akal yang dibantu oleh hati. Dengan
kebersihan hati dan pancaran akal, lalu akal akan menerima ma’rifah dari
al-fa’al. Dalam pemahaman bahwa jiwa-jiwa manusia tidak berbeda lapangan
ma’rifahnya dan ukuran yang dicapai mengenai ma’rifah, tetapi perbedaannya
terletak pada ukuran persiapannya untuk berhubungan dengan akal fa’al.
Mengenai bersatunya Tuhan dan manusia atau bertempatnya
Tuhan dihati diri manusia tidak diterima oleh ibnu Sina, karena manusia tidak
bisa langsung kepada Tuhannya, tetapi melalui prantara untuk menjaga kesucian
Tuhan. Ia berpendapat bahwa puncak kebahagiaan itu tidak tercapai, kecuali
hubungan manusia dengan Tuhan. Karena manusia mendapat sebagian pancaran dari
perhubungan tersebut. Pancaran dan sinar tidak langsung keluar dari Allah,
tetapi melalui akal fa’al.
D.
Al-Razi
1. Sejarah lahir
Nama lengkap al-razi adalah Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria
ibnu Yahya Al-Razi. Dalam wacana keilmuan barat, beliau dikenal dengan sebutan
Razhes. Ia dilahirkan di Rayy, sebuah kota tua yang masa lalu bernama Rhoges,
dekat Teheran, Republik Islam Iran pada tanggal 1 Sya’ban 251 H/865 M. Perlu
diingat bahwasanya tempat yang ia tinggali yakni Iran ,yang sebelumnya terkenal
dengan sebutan Persia, merupakan tempat dimana terjadinya pertemuan berbagai
kebudayaan terutama kebudayaan Yunani dan Persia. Dengan suasana seperti
lingkungan seperti ini mendorong bakat Al-Razi tampil sebagai seorang
intelektual.
Ada beberapa nama tokoh lain yang juga dipanggil al-razi,
yakni Abu Hatim Al-Razi dan Najmun Al-Razi. Oleh karena itu, untuk membedakan
Al-Razi dengan yang lainnya, perlu ditambahkan dengan sebutan Abu Bakar, yang
merupakan nama kun-yah-nya (gelarnya).
Beliau pernah menjadi tukang intan pada mudanya, penukar
uang, dan pemain kecapi. Lalu beliau memusatkan perhatiannya pada ilmu kimia
dan meninggalkannya akibat eksperimen-eksperimen yang dilakukannya yang
menyebabkan mata terserang penyakit. Setelah itu, beliau mendalami ilmu
kedokterang dan filsafat yang ada pada masa itu.
Ayahnya berharap Al-razi menjadi seorang pedagang besar,
maka dari itu ayahnya membekali Al-razi ilmu-ilmu perdagangan. Akan tetapi,
Al-Razi lebih memilih kepada bidang intelektual ketimbang dengan perdagangan
karena menurutnya bidang intelektual merupakan perkara yang lebih besar
ketimbang urusan dengan materi belaka.
Karena ketekunannya dalam bidang kedoteran dan filsafat,
Al-Razi menjadi terkenal sebagai dokter yang dermawan, penyayang kepada
pasien-pasiennya, oleh karena tiu dia sering memberi pengobata cuma-Cuma kepada
orang miskin. Dan karena reputasinya dalam kedokteran, dia pernah mejabat
sebagai kepala rumah sakit Rayy pada masa pemerintahan Gubernur Al-Mansur ibnu
Ishaq. Kemudian dia berpindak ke Baghdad dan memimpin rumah saki di sana pada
masa pemerintahan Khlifah Al-Muktafi. Setelah Al-Muktafi meninggal, ia kembali
ke kota kelahirannya, kemudian id berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri
lainnya dan meninggal dunia pada tanggal 5 Sya’ban 313 H/ 27 Oktober 925 dalam
usia 60 tahun.
2.
Karyanya
Mengenai karyanya, tentu berkaitan dengan siapa dia belajar,
dan siapa yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepadanya. Menurut Al-Nadim, beliau
belajar filsafat kepada Al-Bakhli yang menguasai filsafat dan ilmu-ilmu kuno.
Ia sangat rajin dalam menulis dan membaca, mungkin inilah yang menyebabkan
penglihatannya secara berangsur-angsur melemah dan akhirnya buta total. Ia
menolak akan untuk di obati dengan mengatakan bahwa pengobatan untuknya itu
sia-sia karena tak sebentar lagi dia akan meninggal.
Tak heran jika karya-karyanya sangat banyak sekali bahkan
dia menuliskan pada salah satu kitabnya, bahwasanya dia menulis tidak kurang
sari 200 karya tulis dalam berbagai ilmu pengetahuan. Karya-karyanya yang
meliputi:
- Ilmu Falak,
- Matematika,
- Bidang kimia, yang terkenal dengan Kitab As-rar
- 4. Bidang kedoteran, yang terkenal dengan al-mansuri Liber al-Almansoris
- 5. Bidang Medis, yang terkenal dengan kitab Al-Hawi,
- 6. Mengenai penyakit cacar dan pencegahannya, yakni Kitab al-Judar wa al-Hasbah
Sebagian dari karyanya telah dikumpulkan menjadi satu kitab
yang bernama al-Rasa’il Falsafiyyat dan buku-buku yang lainnya seperti Thib
al-Ruhani, al-Sirah al-Falsafah dan lain sebagainya. Dia terkenal sebagai
ahli kimia dan ahli kedokteran dibanding dengan sebagai filosof.
3. Filsafatnya
Lima Kekal ( Al-Qadiim )
Karena filsafatnya terkenal dengan 5 yang kekal, maka kami
sebagai pemakal memasukannya dalam makalah kami. Sebenarnya pemikirannya sangat
banyak, akan tetapi yang akan kami bahas disini hanya pada pemikirannya mengenai
5 hal yang kekal.
5 hal yang kekal itu antara lain; Al-Baary Ta’ala (Allah
Ta’ala), Al-Nafs Al-Kulliyyat (jiwa universal), Al-Hayuula al-Uula (materi
pertama), al-Makaan al-Muthlaq (tampat/ruang absolut), dan al-Zamaan al-Muthlaq
(masa absolut). Dan dia juga mengklasifikasinya pada yang hidup dan aktif. Yang
hidup dan aktif itu Allah dan jiwa, yang tidak hidup dan
pasif itu materi, yang tidak hidup, tidak aktif, dan tidak pula
pasif itu ruang dan waktu.
Al-Baary Ta’ala (Allah Ta’ala), menurutnya Allah itu kekal karena
Dia-lah yang menciptakan alam ini dari bahan yang telah ada dan tidak mungkin
dia menciptakan ala mini dari ketiadaan (creatio ex nihilo). Al-Nafs
Al-Kulliyyat (jiwa universal), menurutnya jiwa merupakan sesuatu yang kekal
selain Allah, akan tetapi kekekalannya tidak sama dengan kekekalan Allah. Al-Hayuula
al-Uula (materi pertama), disebut juga materi mutlak yang tidak lain adalah
atom-atom yang tidak bisa dibagi lagi, dan menurutnya mengenai materi pertama,
bahwasanya ia juga kekal karena diciptakan oleh Pencipta yang kekal.
Sebelumnya dia berpendat bahwa materi bersifat kekal dank
arena materi ini menempati ruang, maka Al-Makaan al-Muthlaq (tampat/ruang
absolute) juga kekal. Ruang dalam pandangannya dibedakan menjadi dua
kategori, yakni ruang pertikular yang terbatas dab terikat dengan sesuatu wujud
yang menempatinya, dan ruang universal yang tidak terikat dengan maujud
dan tidak terbatas.
Seperti ruang, dia membedakan pula Al-Zamaan al-Muthlaq
(masa absolut) padad dua kategori yakni; waktu yang absolut/mutlak yang
bersifat qadiim dan substansi yang bergerak atau yang mengalir (jauhar yajri),
pembagian yang kedua yaitu waktu mahsur. Waktu mahsur adalah waktu yang
berlandaskan pada pergerakan planet-planet, perjalanan bintang-bintang, dan mentari.
Waktu yang kedua ini tidak kekal. Menurutnya, bahwasanya waktu yang kekal sudah
ada terlebih dahulu sebelum adanya waktu yang terbatas.
E.
Ibnu Miskawaih
1. Sejarah lahir
Nama lengkap Ibnu Miskawaih adalah Abu Ali Ahmad ibnu
Muhammad ibnu Ya’kub ibnu Miskawaih. Ia dilahirkan di kota Rayy, Iran pada
tahun 330 H/ 941 M dan wafat di asfahan pada tanggal 9 Shafar 421 H/ 16
Februari 1030 M. Dari buku yang kami dapatkan, tidak ada penjelasan yang sangat
rinci mengungkapkan biograpinya. Namun, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan,
bahwa ibnu miskawaih belajar sejarah terutama Taarikh al-Thabari kepada
Abu Bakar Ibnu Kamil Al-Qadhi dan belajar filsafat kepada Ibnu Al-Khammar,
mufasir kenamaan karya-karya aristoteles.
Ibnu Miskawaih adalah seorang penganut syi’ah. Hal ini
didasarkan pada pengabdiannya kepada sultan dan wazir-wazir syi’ah pada masa
pemerintahan Bani Buwaihi ( 320 – 448 M ). Dan ketika sultan Ahmad ‘Adhud
Al-Daulah menjabat sebagai kepala pemerintahan, ibnu Miskawaih menduduki
jabatan yang penting, seperti pengangkatannya sebagai Khazin, penjaga
perpustakaan Negara dan bendarahara negara.
2. Karyanya
Dalam karyanya dalam disiplin ilmu meliputi kedokteran,
sejarah dan filsafat. Akan tetapi, dia lebih terkenal sebagai seorang filosof
akhlak, ( al-falsafat al-‘amaliyat ) ketimbang dengan seorang filosof
ketuhanan ( al-falsafat al-nazhariyyat al-Illahiyat ).
Dalam buku The History of the Muslim Philoshopy disebutkan
bahwa karya tulisannya itu; Al-Fauz al-Akbar, al-Fauz al-Asghar, Tajaarib al-Umaan
( sebuah sejarah tentang banjir besar yana ditulis pada tahun 369 H/ 979 M),
Uns al-Fariid ( yakni koleksi anekdot, syair, peribahasa, dan kata-kata
hikmah ), Tartiib al-Sa’adat ( isinya ahlak dan politik ),
al-Mustaufa ( isinya syair-syair pilihan ), al-Jaami’, al-Siyaab, On the
Simple Drugs ( tentang kedokteran ), On the composition of the Bajats ( tentang
kedokteran ), Kitaab al-Ashribah ( tentang minuman ), Tahziib al-Akhlak (
tentang akhlak ), Risaalat fi al-Lazza wa al-Aalam fil jauhar al-Nafs, ajwibaat
wa As’ilat fi al-Nafs wa al-‘Aql, Al-Jawaab fi Al-Masaa’il al-Salas, Risaalat
fi Jawaab fi Su’al Ali ibnu Muhammad Abuu Hayyan al-Shufii fi HAqiiqat al-‘Aql,
dan Tharathat al-Nafs.
3. Akhlak
Ibnu miskawaih yang terkenal sebagai seorang yang moralis
berpendapat bahwa akhlak adalah suatu sikap atau keadaan jiwa yang
mendorongnya untuk berbuat tanpa berpikir dan sama sekali tidak ada
pertimbangan. Dengan kata lain, ahklak adalah tindakan yang tidak ada sama
sekali pertentangan dalam dirinya untuk melakukan sesuatu. Menurut kami,
ungkapan beliau mengenai hal ini sama dengan perkataan plato yang mengatakan
bahwasanya cinta adalah gerak jiwa yang kosong.
Ibnu Miskawaih juga membagi tingkah laku pada dua unsur
yakni; unsur watak naluriah dan unsur watak kebiasaan dengan melakukan latihan
( riyadhoh ). Serta dia berpandangan bahwa jiwa mempunyai tiga daya yang
mana apabila ketigak daya ini beserta sifat-sifatnya selaras, maka akan
menimbulkan sifat yang keempat yakni adil.
Adapun tiga daya yang dia maksud adalah; daya pikir, daya
marah, dan daya keinginan. Sedangkan yang dia maksud dengan sifat utama
mengenai ketiga daya ini antara lain adalah; sifat hikmah merupakan sifat utama
bagi jiwa yang berpikir yang mana hikmah ini lahir dari ilmu. Rasa berani
merupakan sifat utama bagi jiwa marah yang mana sifat berani ini timbul dari
sifat hilm ( mawas diri ). Sedangkan sifat utama bagi jiwa keinginan
adalah sifat murah yang merupakan sifat utamanya yang lahir dati ‘iffah (
memelihara kehormatan diri ).
Dapat disimpulkan bahwasanya sifat utama itu antara lain;
hikmah, berani, dan murah yang apabila ketiga sifat utama ini selaras, maka
sifati keempat akan timbul darinya, yakni keadilan. Sedangkan lawan dari semua
sifat itu adalah bodoh, rakus, penakut, dan zalim.
F.
Ibnu Rusyd
1. Sejarah kelahirannya
Nama asli dari Ibnu Rusyd adalah Abu Al-Walid Muhammad ibnu
Ahmad ibnu Muhammad ibnu Rusyd, beliau dilahirkan di Cordova, Andalus pada tahun
510 H/ 1126 M, 15 tahun setelah kematiannya imam ghazali. Di dunia barat dia
lebih terkenal dengan sebutan Averros, sedang di dunia islam sendiri lebih
terkenal dengan nama ibnu Rusyd. Ibnu Rusyd adalah keturunan keluarga terhormat
yang terkenal sebagai tokoh keilmuwan, sedang ayah dan kakeknya adalah mantan
hakim di andalus. Pada tahun 565 H/ 1169 M dia diangkat menjadi seorang hakim
di Seville dan Cordova. Dan pada tahun 1173 ia menjadi ketua mahkamah agung, Qadhi
al-Qudhat di Cordova.
Salah satu faktor yang membuatnya menjadi seorang ilmuwan
adalah karena dia tumbuh dan hidup dalam keluarga yang Ghirah-nya besar
sekali dalam bidang keilmuwan. Akan tetapi yang menjadi faktor utamanya
karena ketajamannya dalam berpikir serta kejeniusan otaknya. Dengan semua
faktor-faktor di atas, tidaklah heran apabila dia menjadi seorang ilmuwan
Muslim yang terkemuka.
Hal yang sangat mengagumkan dari ibnu Rusyd adalah semenjak
dia sudah mulai berakal ( masa baligh ) hampir semua hidupnya ia pergunakan
untuk belajar dan membaca. Tak pernah dia melewatkan waktunya selain untuk
berpikir dan membaca, kecuali pada malam ayahnya meninggal dan ketika malam
pernikahannya. Dengan keadaan seperti ini, membuat pemikirannya semakin tajam
dan kuat dari waktu ke waktu.
Kehidupannya sebagai seorang hakim tidaklah mulus, ibnu Rusd
pernah mengalami akan tuduhan pahit, yang pada dasarnya hanya untuk keperluan
mobilisasi menghadapi pemberontakkan Kristen Spanyol, dia di tuduh kafir, lalu
dia di adili dan sebagai hukumannya dia di buang ke Lucena, dekat Cordova.
Tidak hanya itu saja, semua jabatannya sebagai hakim mahkamah agung dicopot
serta semua bukunya di bakar, kecuali buku yang bersifat ilmu pengetahuan murni
( sains ), seperti kedokteran, matematika dan astronomi.
Setahun lamanya ibnu Rusyd mengalami masa yang sangat getir
itu, dan pada tahun 1197 M, khlifah mencabut hukumannya dan mengembalikkan
semua pangkat yang pernah dia pegang sebelumnya. Ibnu Rusyd meninggal 10
desember 1198 M/ 9 Shafar 595 H di marakesh dalam usia 72 tahun menurut
perhitungan Masehi dan 75 tahun menurut perhitungan tahun Hijriyah.
2. Karyanya
Tulisan ibnu Rusyd yang dapat kita dapati pada sekarang ini
antara lain; Fashl al-Maqaal fi maa bain al-Hikmat wa al-Syari’ah min
al-Ittishaal, buku ini berisikan korelasi antara agama dan filsafat. Al-Kasyf’an
Manaahij al-Sdillah fi Aqaa’id al-Millat, sedang buku ini berisikan tentang
kritik terhadap metode para ahli ilmu kalam dan sufi. Tahaafut al-Tahaafut,
kitab ini berisikan tentang kritikan terhadap imam ghazali yang kitabnya
berjudul Tahaafut al-Falaasifah. Sedangkan karnyanya dalam bidah fiqih
yaitu buku yang berjudul Bidaayat al-Mujtahid wa Nihaayat al-Muqtashid.
filsafat : asal-usul gunung santri
ASAL-USUL GUNUNG SANTRI
Gunung santri merupakan salah satu bukit dan
nama kampong yang ada di desa Bojonegara kecamatan Bojonegara kabupaten Serang.
Berawal dari perjuangan Sunan Ampel atau
Raden Rahmat yang pernah merencanakan berdirinya kerajaan Islam, dengan
dibuktikan atas berdirinya negara baru di Demak, dan sekaligus berdirinya
Masjid Agung Demak pada tahun 1479. Beliau juga mendirikan Pondok Pesantren
sebagai sarana penggemblengan para kader yang kelak melanjutkan perjuanganya.
Salah satu kader atau santri Sunan Ampel adalah Syeikh Muhammad Sholeh.
Setelah Syeikh Muhammad Sholeh selesai
menimba ilmu pada Sunan Ampel, beliau melanjutkan perjuangannya untuk menemui Sultan
Syarif Hidayatullah (ayah Sultan Maulana Hasanudin) di Cirebon. Atas
perintah Sultan Syarif Hidayatullah pada waktu itu penguasa cirebon. Syeikh
Muhammad Sholeh berangkat ke Banten untuk mencari putra sang guru, yakni Sultan
Maulana Hasanudin yang telah lama meninggalkan cirebon tanpa sepengetahua orang
tuanya. Perjalanan ke Banten sambil berda'wah kepada masyarakat Banten, yang
pada waktu itu masih beragama Hindu di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran
yang di pimpin oleh Prabu Pucuk Umun, dengan pusat pemerintahannya di Banten
Girang. Sesuai dengan tujuannya
berkat ketelatenannya akhirnya bertemulah putra penguasa Cirebon itu di Gunung
Lempuyang di dekat kampung Merapit Desa Ukirsari Kec.Bojonegara,
terletak di sebelah barat dari kota kecamatan. Diketemukannya Sultan Maulana
Hasanudin dari gunung itu beliau sedang bermunajat kepada Allah SWT. Setelah
itu Syeikh Muhammad Sholeh memberitahukan kepada Sultan Maulana Hasanudin
mengenai kedatangannya bahwa sebenarnya ia disuruh oleh orangtuanya ( Sultan
Syarif Hidayatullah) untuk ke Cirebon. Namun rupanya Sultan Maulana Hasanudin
tidak mau dibujuk untuk pulang ke Cirebon, karena masih ingin tetap melanjutkan
munajatnya, dan Syeikh Muhammad Sholeh akhirnya kembali ke Cirebon melaporkan
kepada Sultan Syarif Hidayatullah, atas pertemuannya dengan Sultan Maulana
Hasanudin. Rupanya laporan Syeikh Muhammad Sholeh itu tidak memuaskan harapan
Sultan Syarif Hidayatullah, sehingga Syeikh Muhammad Sholeh diajak kembali
bersama-sama mengunjungi Sultan Maulana Hasanudin di Gunung Lempuyang. Misi
keberangkatan Sultan Syarif Hidayatullah bersama Syeikh Muhammad Sholeh ke
banten menuju gunung lempuyang dalam rangka membujuk Sultan Maulana Hasanudin
agar kembali ke Cirebon. Sebelum pulang ke
Cirebon, Sultan Syarif Hidayatullah menghendaki perjalanan itu lewat laut,
tetapi Sultan Maulana Hasanudin menyarankan agar lewat darat dengan
pertimbangan khawatir akan terjadi badai & tofan yang mengakibatkan bahaya.
Dan dalam silang pendapat itu akhirnya Sultan Syarif Hidataullah tetap kukuh
terhadap pendiriannya untuk pulang melalui laut.
Kepulangan Syarif Hidayatullah ke Cirebon
diantar keberangkatannya oleh sultan Maulana Hasanudin bersama Syeikh Maulana
Sholeh dari pantai. Pulau Majeti ( atau Tanjung Watu Abang). Sultan Maulana
Hasanudin & Syeikh Muhammad Sholeh tidak ikut berangkat ke Cirebon,
mereka tetap menunggu di pantai. Kekhawatiran Sultan Maulana Hasanudin atas
keberangkatan ayahnya lewat laut ternyata menjadi kenyataan. Belum lama mereka
menunggu terdengar suara gemuruh & tofan dari arah timur, dimana Sultan
Syarif Hidayatullah sedang melintasi lautan (teluk Banten) menuju Cirebon.
Keadaan demikian Sultan Syarif Hidayatullah ragu-ragu untuk melanjutkan
perjalanannya. Akhirnya ia singgah di salah satu pulau, yang sekarang dinamakan
Pulau Tunda. Setelah badai & tofan mereda, Sultan Syarif
Hidayatullah memilih untuk kembali ke tempat asal, keberangkatan menemui
putranya & Syeikh Muhammad Sholeh, yang masih setia meunggu. Peristiwa itu diceritakan kepada anaknya (Sultan Maulana
Hasanudin) atas musibah yang terjadi & membenarkan terhadap perkiraan cuaca
yang pernah disampaikan sebelum ia berangkat. Akhirnya Sultan Syarif
Hidayatullah memberikan gelar kepada putranya itu dengan sebutan Pangeran
Sandang Lautan. Setelah itu,, kesepakatan bahwa keberangkatan berikutnya
akan dilaksanakan melalui jalan darat. Berangkatlah mereka menuju Cirebon,
namun di tengah jalan, Syeikh Muhammad Sholeh mohon pamit untuk memisahkan
diri, ia ingin menetap di Gunung Santri guna meneruskan perjuangannya dalam
menyiarkan agama Islam di Pantai Utara.
Langganan:
Komentar (Atom)