ASAL-USUL GUNUNG SANTRI
Gunung santri merupakan salah satu bukit dan
nama kampong yang ada di desa Bojonegara kecamatan Bojonegara kabupaten Serang.
Berawal dari perjuangan Sunan Ampel atau
Raden Rahmat yang pernah merencanakan berdirinya kerajaan Islam, dengan
dibuktikan atas berdirinya negara baru di Demak, dan sekaligus berdirinya
Masjid Agung Demak pada tahun 1479. Beliau juga mendirikan Pondok Pesantren
sebagai sarana penggemblengan para kader yang kelak melanjutkan perjuanganya.
Salah satu kader atau santri Sunan Ampel adalah Syeikh Muhammad Sholeh.
Setelah Syeikh Muhammad Sholeh selesai
menimba ilmu pada Sunan Ampel, beliau melanjutkan perjuangannya untuk menemui Sultan
Syarif Hidayatullah (ayah Sultan Maulana Hasanudin) di Cirebon. Atas
perintah Sultan Syarif Hidayatullah pada waktu itu penguasa cirebon. Syeikh
Muhammad Sholeh berangkat ke Banten untuk mencari putra sang guru, yakni Sultan
Maulana Hasanudin yang telah lama meninggalkan cirebon tanpa sepengetahua orang
tuanya. Perjalanan ke Banten sambil berda'wah kepada masyarakat Banten, yang
pada waktu itu masih beragama Hindu di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran
yang di pimpin oleh Prabu Pucuk Umun, dengan pusat pemerintahannya di Banten
Girang. Sesuai dengan tujuannya
berkat ketelatenannya akhirnya bertemulah putra penguasa Cirebon itu di Gunung
Lempuyang di dekat kampung Merapit Desa Ukirsari Kec.Bojonegara,
terletak di sebelah barat dari kota kecamatan. Diketemukannya Sultan Maulana
Hasanudin dari gunung itu beliau sedang bermunajat kepada Allah SWT. Setelah
itu Syeikh Muhammad Sholeh memberitahukan kepada Sultan Maulana Hasanudin
mengenai kedatangannya bahwa sebenarnya ia disuruh oleh orangtuanya ( Sultan
Syarif Hidayatullah) untuk ke Cirebon. Namun rupanya Sultan Maulana Hasanudin
tidak mau dibujuk untuk pulang ke Cirebon, karena masih ingin tetap melanjutkan
munajatnya, dan Syeikh Muhammad Sholeh akhirnya kembali ke Cirebon melaporkan
kepada Sultan Syarif Hidayatullah, atas pertemuannya dengan Sultan Maulana
Hasanudin. Rupanya laporan Syeikh Muhammad Sholeh itu tidak memuaskan harapan
Sultan Syarif Hidayatullah, sehingga Syeikh Muhammad Sholeh diajak kembali
bersama-sama mengunjungi Sultan Maulana Hasanudin di Gunung Lempuyang. Misi
keberangkatan Sultan Syarif Hidayatullah bersama Syeikh Muhammad Sholeh ke
banten menuju gunung lempuyang dalam rangka membujuk Sultan Maulana Hasanudin
agar kembali ke Cirebon. Sebelum pulang ke
Cirebon, Sultan Syarif Hidayatullah menghendaki perjalanan itu lewat laut,
tetapi Sultan Maulana Hasanudin menyarankan agar lewat darat dengan
pertimbangan khawatir akan terjadi badai & tofan yang mengakibatkan bahaya.
Dan dalam silang pendapat itu akhirnya Sultan Syarif Hidataullah tetap kukuh
terhadap pendiriannya untuk pulang melalui laut.
Kepulangan Syarif Hidayatullah ke Cirebon
diantar keberangkatannya oleh sultan Maulana Hasanudin bersama Syeikh Maulana
Sholeh dari pantai. Pulau Majeti ( atau Tanjung Watu Abang). Sultan Maulana
Hasanudin & Syeikh Muhammad Sholeh tidak ikut berangkat ke Cirebon,
mereka tetap menunggu di pantai. Kekhawatiran Sultan Maulana Hasanudin atas
keberangkatan ayahnya lewat laut ternyata menjadi kenyataan. Belum lama mereka
menunggu terdengar suara gemuruh & tofan dari arah timur, dimana Sultan
Syarif Hidayatullah sedang melintasi lautan (teluk Banten) menuju Cirebon.
Keadaan demikian Sultan Syarif Hidayatullah ragu-ragu untuk melanjutkan
perjalanannya. Akhirnya ia singgah di salah satu pulau, yang sekarang dinamakan
Pulau Tunda. Setelah badai & tofan mereda, Sultan Syarif
Hidayatullah memilih untuk kembali ke tempat asal, keberangkatan menemui
putranya & Syeikh Muhammad Sholeh, yang masih setia meunggu. Peristiwa itu diceritakan kepada anaknya (Sultan Maulana
Hasanudin) atas musibah yang terjadi & membenarkan terhadap perkiraan cuaca
yang pernah disampaikan sebelum ia berangkat. Akhirnya Sultan Syarif
Hidayatullah memberikan gelar kepada putranya itu dengan sebutan Pangeran
Sandang Lautan. Setelah itu,, kesepakatan bahwa keberangkatan berikutnya
akan dilaksanakan melalui jalan darat. Berangkatlah mereka menuju Cirebon,
namun di tengah jalan, Syeikh Muhammad Sholeh mohon pamit untuk memisahkan
diri, ia ingin menetap di Gunung Santri guna meneruskan perjuangannya dalam
menyiarkan agama Islam di Pantai Utara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar