Proses
Mengembalikan Keadaan Pendidikan Sekarang Seperti Dalam Kebudayaan Masa Lampau
Perenialisme muncul atau berkembang
sebagai reaksi dan solusi yang diajukan atas terjadinya suatu keadaan yang
mereka sebut sebagai krisis kebudayaan dalam masyarakat modern. Esensi aliran ini berupaya menerapkan nilai-nilai dan
norma-norma yang bersifat kekal dan abadi selalu sepanjang sejarah manusia,
sehingga perenialisme dianggap sebagai suatu aliran yang ingin kembali dan
mundur kepada nilai-nilai kebudayaan masa lampau.
Perenialisme
memandang bahwa keadaan sekarang adalah sebagai zaman yang mempunyai kebudayaan
yang terganggu oleh kekacauan, kebingungan dan kesimpangsiuran. Aliran ini
lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang
pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dari sesuatu yang baru.
Perenialisme memandang situasi dunia saat ini penuh kekacauan, ketidakpastian,
dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultural. Oleh karena
itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan
jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah
menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji.
·
Dasar
Folosofis Perenialisme
Perenialisme
dilandasi keyakinan ontologis tentang manusia dan alam. Aliran ini memandang
bahwa hakikat manusia sebagai makhluk rasional yang akan selalu sama bagi
setiap manusia dimanapun dan sampai kapanpun dalam pengembangan historitasnya.
Pemikiran mereka bahwa suatu kemajuan yang dialami oleh manusia di satu masa
akan dapat diterapkan pada manusia lain pada masa dan tempat yang berbeda.
Aliran
perenialisme berkeyakinan bahwa kendatipun dalam lingkungan dan tempat yang
berbeda-beda hakikat manusia tetap menunjukkan kesamaannya. Oleh karena itu,
pola dan corak pendidikan yang sama dapat diterapkan kepada siapapun dan di
manapun ia berada, karena memang terlahir dari hakikat yang sama sebagai
makhluk rasional. Aliran ini berpendapat, bahwa rasionalitas adalah hukum
pertama yang akan tetap benar disegala waktu dan tempat. Dengan adanya prinsi
rasionalitas ini akan melahirkan prinsip kesadaran dan kebebasan. Kesadaran dan
kebebasan adalah bukti nyata bagi fungsionalitas rasio manusia, sebab kekuatan
bertindak bebas tergantung pada kekuatan berpikir, sehingga otoritas berpikir
adalah satu-satunya sumber kemerdekaan. Penulis menyebutkan manusia yang bebas
adalah manusia yang berpikir.
·
Implementasi
Perenialisme Terhadap Pendidikan
Adapun
aplikasi pendidikan kaum Perenialisme memandang education as cultural
regression pendidikan sebagai jalan kembali, atau proses mengembalikan keadaan
manusia sekarang seperti dalam kebudayaan masa lampau yang dianggap sebagai
kebudayaan ideal. Tugas pendidikan adalah memberikan pengetahuan tentang
nilai-nilai kebenaran yang pasti, absolut, dan abadi yang terdapat dalam
kebudayaan masa lampau yang dipandang sebagai kebudayaan ideal tersebut.Sejalan
dengan hal di atas, penganut Perenialisme percaya bahwa prinsip-prinsip
pendidikan juga bersifat universal dan abadi.
1.
Tujuan Umum Pendidikan
Membantu
anak menyingkap dan menanamkan kebenaran-kebenaran hakiki. Oleh karena itu
kebenaran-kebenaran itu universal dan konstan, maka kebenaran-kebenaran tersebut
hendaknya menjadi tujuan-tujuan pendidikan yang murni. Kebenaran-kebenaran
hakiki dapat dicapai dengan sebaik-baiknya melalui :
a. Latihan intelektual secara cermat untuk melatih pikiran, dan
b. Latihan karakter sebagai suatu cara mengembangkan manusia spiritual.
a. Latihan intelektual secara cermat untuk melatih pikiran, dan
b. Latihan karakter sebagai suatu cara mengembangkan manusia spiritual.
2. Hakikat Guru
Tugas
utama dalam pendidikan adalah guru-guru, di mana tugas pendidikanlah yang
memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Faktor
keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang
yang telah mendidik dan mengajarkan. Berikut pandangan aliran perenialisme
mengenai guru atau pendidikan:
a. Guru mempunyai peranan dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di kelas.
b. Guru hendaknya orang yang menguasai suatu cabang ilmu, seorang guru yang ahli (a master teacher) bertugas membimbing diskusi yang akan memudahkan siswa menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang tepat, dan wataknya tanpa cela. Guru dipandang sebagai orang yang memiliki otoritas dalam suatu bidang pengetahuan dan keahliannya tidak diragukan.
a. Guru mempunyai peranan dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di kelas.
b. Guru hendaknya orang yang menguasai suatu cabang ilmu, seorang guru yang ahli (a master teacher) bertugas membimbing diskusi yang akan memudahkan siswa menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang tepat, dan wataknya tanpa cela. Guru dipandang sebagai orang yang memiliki otoritas dalam suatu bidang pengetahuan dan keahliannya tidak diragukan.
3. Hakikat Murid
Murid
dalam aliran perenialisme merupakan makhluk yang dibimbing oleh prinsip-prinsip
pertama, kebenaran-kebenaran abadi, pikiran mengangkat dunia biologis. Hakikat
pendidikan upaya proses transformasi pengetahuan dan nilai kepada subyek didik,
mencakup totalitas aspek kemanusiaan, kesadaran, sikap dan tindakan kritis
terhadap seluruh fenomena yang terjadi di sekitarnya. Pendidikan bertujuan
mencapai pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh secara seimbang
melalui latihan jiwa, intelek, diri manusia yang rasional; perasaan dan indera.
Karena itu pendidikan harus mencakup pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya
: spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah, bahasa, baik secara
individual maupun secara kolektif, dan mendorong semua aspek ini ke arah
kebaikan dan mencapai kesempurnaan.
4. Proses Belajar Mengajar
Tuntutan
tertinggi dalam belajar menurut Perenialisme, adalah latihan dan disiplin
mental. Maka, teori dan praktik pendidikan haruslah mengarah kepada tuntunan
tersebut. Teori dasar dalam belajar menurut Perenialisme terutama:
a. Mental dicipline sebagai teori dasar
b. Rasionalitas dan Asas Kemerdekaan
c. Leraning to Reason (belajar untuk berpikir)
a. Mental dicipline sebagai teori dasar
b. Rasionalitas dan Asas Kemerdekaan
c. Leraning to Reason (belajar untuk berpikir)
Bagaimana
tugas berat ini dapat dilaksanakan, yakni belajar supaya mampu berpikir.
Perenialisme tetap percaya dengan asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan
pendidikan anak. Kecakapan membaca, menulis, dan berhitung merupakan landasan
dasar. Dan berdasarkan pentahapan itu, maka learning to reason menjadi tujuan
pokok pendidikan sekolah menengah dan pendidikan tinggi.
d. Belajar sebagai persiapan hidup
d. Belajar sebagai persiapan hidup
Belajar
untuk mampu berpikir bukanlah semata – mata tujuan kebajikan moral dan
kebajikan intelektual dalam rangka aktualitas sebagai filosofis. Belajar untuk
berpikir berarti pula guna memenuhi fungsi practical philosophy baik etika,
sosial politik, ilmu dan seni.
e. Learning through teaching
e. Learning through teaching
Dalam
pandangan Perenialisme, tugas guru bukanlah perantara antara dunia dengan jiwa
anak, melainkan guru juga sebagai murid yang mengalami proses belajar sementara
mengajar. Guru mengembangkan potensi – potensiself discovery, dan ia melakukan
otoritas moral atas murid – muridny, karena ia seorang profesional yang
memiliki kualifikasi dan superior dibandingkan dengan murid – muridnya. Guru
harus mempunyai aktualitas yang lebih.
5. Kurikulum
5. Kurikulum
Kurikulum
menurut kaum perenialis harus menekankan pertumbuhan intelektual siswa pada
seni dan sains. Untuk menjadi “terpelajar secara cultural” para
siswa harus berhadapan dengan bidang seni dan sains yang merupakan karya
terbaik yang diciptakan oleh manusia.. Kurikulum perenialis Hutchins didasarkan
pada tiga asumsi mengenai pendidikan :
a. Pendidikan harus mengangkat pencarian kebenaran manusia yang berlangsung terus menerus. Kebenaran apapun akan selalu benar dimanapun juga. Kebenaran bersifat universal dan tak terikat waktu
b. Karena kerja pikiran adalah bersifat intelektual dan memfokuskan pada gagasan–gagasan, pendidikan juga harus memfokuskan pada gagasan-gagasan pengolahan rasionalitas manusia adalah fungsi penting pendidikan
c. Pendidikan harus menstimulus para mahasiswa untuk berfikir secara mendalam mengenai gagasan – gagasan signifikan. Para guru harus menggunakan pemikiran yang benar dan kritis seperti metoda pokok mereka, dan mereka harus mensyaratkan hal yang sama pada siswa.
a. Pendidikan harus mengangkat pencarian kebenaran manusia yang berlangsung terus menerus. Kebenaran apapun akan selalu benar dimanapun juga. Kebenaran bersifat universal dan tak terikat waktu
b. Karena kerja pikiran adalah bersifat intelektual dan memfokuskan pada gagasan–gagasan, pendidikan juga harus memfokuskan pada gagasan-gagasan pengolahan rasionalitas manusia adalah fungsi penting pendidikan
c. Pendidikan harus menstimulus para mahasiswa untuk berfikir secara mendalam mengenai gagasan – gagasan signifikan. Para guru harus menggunakan pemikiran yang benar dan kritis seperti metoda pokok mereka, dan mereka harus mensyaratkan hal yang sama pada siswa.
Mortimer
Adler sebagai salah seorang pendukung perenialisme ini mengatakan, bahwa jika
seorang manusia adalah makhluk rasional yang merupakan hakikat yang senantiasa
itu disepanjang sejarahnya, maka tentulah manusia memiliki gambaran yang tetap
pula dalam hal program pendidikan dengan tidak mengikutkan peradaban dan masa
tertentu. Sayyed Husein Nasr mengatakan bahwa karakteristik manusia tidak lain
adalah rasionalitas, yang merupakan sifat manusia yang hakiki. Dengan prinsip
dasar inilah, maka aliran ini berpendapat bahwa sesungguhnya ilmu pengetahuan
sebagai produk dan prestasi manusia dimanapun dan kapanpun akan selalu sama, karena
memang bersumber dari hakikat yang sama.
Aristoteles
sebagai salah satu tokoh yang menjadi rujukan aliran ini menekankan bahwa
melatih dan membiasakan diri merupakan hal yang mendasar bagi pengembangan
kualitas manusia. Oleh karena itu, kesadaran disiplin perlu ditanamkan sejak
dini.
Robert
Maynard Hutchins, salah seorang tokoh perenial menyimpulkan, bahwa tugas pokok
pendidikan adalah pengajaran. Pengajaran menunjukkan pengetahuan sedangkan
pengetahuan itu sendiri adalah kebenaran. Kebenaran pada setiap manusia adalah
sama, oleh karena itu, dimanapun dan kapanpun ia akan selalu sama.
Prinsip
dasar pendidikan bagi aliran perenialisme adalah membantu peserta didik
menemukan dan menginternalisasikan kebenaran abadi, karena memang kebenarannya
mengandung sifat universal dan tetap. Kebenaran ini hanya dapat diperoleh hanya
dapat diperoleh melalui latihan intelektual yang dapat menjadikan pikirannya
teratur dan tersistematis sedemikian rupa. Dalam filsafat pendidikan Islam
kebenaran abadi seperti ini tidak hanya didapat melalui latihan intelektual,
tapi bahkan lebih penting yaitu latihan intuisi atau zauq.
Aliran
perenialisme meyakini bahwa pendidikan adalah transfer ilmu pengetahuan tentang
kebenaran abadi. Pengetahuan adalah sumber kebenaran, sebenarnya kebenaran
selamanya memiliki kesamaan. Oleh karena itu pula maka penyelenggaraan
pendidikan pun di mana-mana mestilah sama. Pendidikan mestilah mencari pola
agar peserta didik dapat menyesuaikan diri bukan hanya pada kebenaran dunia
saja, tetapi hendaknyalah kepada hakikat-hakikat kebenaran.
Di
samping itu proses pendidikan tidak hanya transfer ilmu tetapi juga tranformasi
ilmu dan internalisasi nilai. Prinsip-prinsip dasar seperti ini yang kemudian
dikembangkan oleh Sayyed Husein Nasr, filosof Islam kontemporer yang mengatakan
bahwa manusia memiliki fitrah yang sama yang berpangkal pada asal kejadiannya
yang fitri yang berkonsekuensi pada watak kesucian dan kebaikan, sifatnya tidak
akan pernah berubah karena prinsip-prinsipnya mengandung kontinuitas dalam setiap
ruang dan waktu.
Perenialisme
lebih cenderung pada subjek centered dalam kurikulum maupun dalam metode dan
pendekatan yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Dalam kurikulum akan
terlihat materi-materi yang akan mengarahkan pada kepentingan dan kebutuhan
subjek didiknya dalam menumbuhkembangkan potensi berpikir, kreatif yang
dimilikinya, sedangkan dalam metode pembelajaran, perenialisme mengutamakan
metode yang selalu memberikan kebebasan berpikir peserta didik baik melalui
metode diskusi, problem solving, penelitian dan penemuan.
Para
perenialis memandang, bahwa tuntutan tertinggi dalam belajar adalah latihan dan
disiplin mental. Para perenialis percaya, bahwa pemikiran subjek-subjek didik
akan lebih nyata melalui pelatihan-pelatihan intelektual seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya.
Sifat
rasional manusia yang diyakini aliran ini telah pula menjadikannya mesti
menyakini kebebasan individu, sehingga kebebasan dan kemerdekaan merupakan asas
yang meski dihargai dalam penyelenggaraan kependidikan supaya subjek didik
terbiasa berbuat atas kehendak dan kemauan sendiri yang akan berujung pada
penanaman rasa tanggung jawab.
Program
pendidikan yang ideal menurut perenialisme adalah berorientasi pada potensi
dasar agar kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat dapat terpenuhi.
Pandangan aliran di atas ada kesamaan dengan pendidikan Islam karena Islam
mengakui adanya potensi dasar yang dimiliki manusia semenjak dilahirkan yang
dikembangkan melalui proses pendidikan.
Makna
hakiki dari belajar, menurut aliran ini adalah belajar untuk berpikir. Dengan
cara melatih berpikir, subjek didik akan memiliki senjata ampuh untuk
menghadapi berbagai rintangan yang akan menurunkan martabat kemanusiaannya.
Tugas seorang subjek didik adalah mempelajari karya dalam berbagai literatur
filsafat, sejarah dan sains, sehingga dengan demikian ia berkenalaan dengan
berbagai prestasi di masa lalu menuju pembentukan pemikiran yang akan mengisi
kehidupannya dalam meembangun prestasi-prestasinya pula.
Perenialisme
membedakan belajar kepada dua wilayah besar, yaitu wilayah pengajaran dan
wilayah penemuan. Yang pertama, belajar memerlukan bantuan guru. Guru
dalam hal ini memberikan pengetahuan dan pencerahan keada subjek didik, baik
dengan cara menunjukkan maupun menafsirkan implikasi dari pengetahuan yang
diberikan. Sedangkan yang kedua, tidak lagi membutuhkan guru, karena
subjek didik dalam pola ini diharapkan telah dapat belajar atas kemampuannya
sendiri.
Perenialisme
berpandangan bahwa meskipun substansi semua agama itu sama, tapi kehadiran
substansi akan selalu dibatasi dan fungsinya terkait dengan bentuk, sehingga
secara eksitorik dan operasional akan berbeda antara agama yang satu dengan
agama yang lainnya. Setiap agama selalu otentik untuk zamannya meskipun secara
substansial kebenarannya bersifat perenial, tidak dibatasi ruang dan waktu.
Semua agama yang hadir adalah benar adanya, yang satu tidak menghapus dan
menggantikan yang lain. Mungkin hal inilah yang dirasa sedikit ambigu sehingga
menimbulkan pluralisme agama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar