Minggu, 07 Desember 2014

FILSAFAT : Proses Mengembalikan Keadaan Pendidikan Sekarang Seperti Dalam Kebudayaan Masa Lampau

Proses Mengembalikan Keadaan Pendidikan Sekarang Seperti Dalam Kebudayaan Masa Lampau

Perenialisme muncul atau berkembang sebagai reaksi dan solusi yang diajukan atas terjadinya suatu keadaan yang mereka sebut sebagai krisis kebudayaan dalam masyarakat modern. Esensi aliran ini berupaya menerapkan nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal dan abadi selalu sepanjang sejarah manusia, sehingga perenialisme dianggap sebagai suatu aliran yang ingin kembali dan mundur kepada nilai-nilai kebudayaan masa lampau.
Perenialisme memandang bahwa keadaan sekarang adalah sebagai zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kekacauan, kebingungan dan kesimpangsiuran. Aliran ini lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dari sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia saat ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultural. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji.  
·         Dasar Folosofis Perenialisme
Perenialisme dilandasi keyakinan ontologis tentang manusia dan alam. Aliran ini memandang bahwa hakikat manusia sebagai makhluk rasional yang akan selalu sama bagi setiap manusia dimanapun dan sampai kapanpun dalam pengembangan historitasnya. Pemikiran mereka bahwa suatu kemajuan yang dialami oleh manusia di satu masa akan dapat diterapkan pada manusia lain pada masa dan tempat yang berbeda.


Aliran perenialisme berkeyakinan bahwa kendatipun dalam lingkungan dan tempat yang berbeda-beda hakikat manusia tetap menunjukkan kesamaannya. Oleh karena itu, pola dan corak pendidikan yang sama dapat diterapkan kepada siapapun dan di manapun ia berada, karena memang terlahir dari hakikat yang sama sebagai makhluk rasional. Aliran ini berpendapat, bahwa rasionalitas adalah hukum pertama yang akan tetap benar disegala waktu dan tempat. Dengan adanya prinsi rasionalitas ini akan melahirkan prinsip kesadaran dan kebebasan. Kesadaran dan kebebasan adalah bukti nyata bagi fungsionalitas rasio manusia, sebab kekuatan bertindak bebas tergantung pada kekuatan berpikir, sehingga otoritas berpikir adalah satu-satunya sumber kemerdekaan. Penulis menyebutkan manusia yang bebas adalah manusia yang berpikir.
·         Implementasi Perenialisme Terhadap Pendidikan
Adapun aplikasi pendidikan kaum Perenialisme memandang education as cultural regression pendidikan sebagai jalan kembali, atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan masa lampau yang dianggap sebagai kebudayaan ideal.  Tugas pendidikan adalah memberikan pengetahuan tentang nilai-nilai kebenaran yang pasti, absolut, dan abadi yang terdapat dalam kebudayaan masa lampau yang dipandang sebagai kebudayaan ideal tersebut.Sejalan dengan hal di atas, penganut Perenialisme percaya bahwa prinsip-prinsip pendidikan juga bersifat universal dan abadi.


1.    Tujuan Umum Pendidikan
Membantu anak menyingkap dan menanamkan kebenaran-kebenaran hakiki. Oleh karena itu kebenaran-kebenaran itu universal dan konstan, maka kebenaran-kebenaran tersebut hendaknya menjadi tujuan-tujuan pendidikan yang murni. Kebenaran-kebenaran hakiki dapat dicapai dengan sebaik-baiknya melalui :
a.    Latihan intelektual secara cermat untuk melatih pikiran, dan
b.     Latihan karakter sebagai suatu cara mengembangkan manusia spiritual.

2.    Hakikat Guru
Tugas utama dalam pendidikan adalah guru-guru, di mana tugas pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Faktor keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan. Berikut pandangan aliran perenialisme mengenai guru atau pendidikan:
a.    Guru mempunyai peranan dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di kelas.
b.    Guru hendaknya orang yang menguasai suatu cabang ilmu, seorang guru yang ahli (a master teacher) bertugas membimbing diskusi yang akan memudahkan siswa menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang tepat, dan wataknya tanpa cela. Guru dipandang sebagai orang yang memiliki otoritas dalam suatu bidang pengetahuan dan keahliannya tidak diragukan.

3.    Hakikat Murid
Murid dalam aliran perenialisme merupakan makhluk yang dibimbing oleh prinsip-prinsip pertama, kebenaran-kebenaran abadi, pikiran mengangkat dunia biologis. Hakikat pendidikan upaya proses transformasi pengetahuan dan nilai kepada subyek didik, mencakup totalitas aspek kemanusiaan, kesadaran, sikap dan tindakan kritis terhadap seluruh fenomena yang terjadi di sekitarnya. Pendidikan bertujuan mencapai pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh secara seimbang melalui latihan jiwa, intelek, diri manusia yang rasional; perasaan dan indera. Karena itu pendidikan harus mencakup pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya : spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah, bahasa, baik secara individual maupun secara kolektif, dan mendorong semua aspek ini ke arah kebaikan dan mencapai kesempurnaan. 

4.    Proses Belajar Mengajar
Tuntutan tertinggi dalam belajar menurut Perenialisme, adalah latihan dan disiplin mental. Maka, teori dan praktik pendidikan haruslah mengarah kepada tuntunan tersebut. Teori dasar dalam belajar menurut Perenialisme terutama:
a.    Mental dicipline sebagai teori dasar   
b.    Rasionalitas dan Asas Kemerdekaan   
c.    Leraning to Reason (belajar untuk berpikir)
Bagaimana tugas berat ini dapat dilaksanakan, yakni belajar supaya mampu berpikir. Perenialisme tetap percaya dengan asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan pendidikan anak. Kecakapan membaca, menulis, dan berhitung merupakan landasan dasar. Dan berdasarkan pentahapan itu, maka learning to reason menjadi tujuan pokok pendidikan sekolah menengah dan pendidikan tinggi.
d.    Belajar sebagai persiapan hidup
Belajar untuk mampu berpikir bukanlah semata – mata tujuan kebajikan moral dan kebajikan intelektual dalam rangka aktualitas sebagai filosofis. Belajar untuk berpikir berarti pula guna memenuhi fungsi practical philosophy baik etika, sosial politik, ilmu dan seni.
e.    Learning through teaching
Dalam pandangan Perenialisme, tugas guru bukanlah perantara antara dunia dengan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai murid yang mengalami proses belajar sementara mengajar. Guru mengembangkan potensi – potensiself discovery, dan ia melakukan otoritas moral atas murid – muridny, karena ia seorang profesional yang memiliki kualifikasi dan superior dibandingkan dengan murid – muridnya. Guru harus mempunyai aktualitas yang lebih.
5.    Kurikulum
Kurikulum menurut kaum perenialis harus menekankan pertumbuhan intelektual siswa pada seni dan sains.   Untuk menjadi “terpelajar secara cultural” para siswa harus berhadapan dengan bidang seni dan sains yang merupakan karya terbaik yang diciptakan oleh manusia.. Kurikulum perenialis Hutchins didasarkan pada tiga asumsi mengenai pendidikan :
a.    Pendidikan harus mengangkat pencarian kebenaran manusia yang berlangsung terus menerus. Kebenaran apapun akan selalu benar dimanapun juga. Kebenaran bersifat universal dan tak terikat waktu
b.    Karena kerja pikiran adalah bersifat intelektual dan memfokuskan pada gagasan–gagasan, pendidikan juga harus memfokuskan pada gagasan-gagasan pengolahan rasionalitas manusia adalah fungsi penting pendidikan
c.    Pendidikan harus menstimulus para mahasiswa untuk berfikir secara mendalam mengenai gagasan – gagasan signifikan. Para guru harus menggunakan pemikiran yang benar dan kritis seperti metoda pokok mereka, dan mereka harus mensyaratkan hal yang sama pada siswa.
Mortimer Adler sebagai salah seorang pendukung perenialisme ini mengatakan, bahwa jika seorang manusia adalah makhluk rasional yang merupakan hakikat yang senantiasa itu disepanjang sejarahnya, maka tentulah manusia memiliki gambaran yang tetap pula dalam hal program pendidikan dengan tidak mengikutkan peradaban dan masa tertentu. Sayyed Husein Nasr mengatakan bahwa karakteristik manusia tidak lain adalah rasionalitas, yang merupakan sifat manusia yang hakiki. Dengan prinsip dasar inilah, maka aliran ini berpendapat bahwa sesungguhnya ilmu pengetahuan sebagai produk dan prestasi manusia dimanapun dan kapanpun akan selalu sama, karena memang bersumber dari hakikat yang sama.
Aristoteles sebagai salah satu tokoh yang menjadi rujukan aliran ini menekankan bahwa melatih dan membiasakan diri merupakan hal yang mendasar bagi pengembangan kualitas manusia. Oleh karena itu, kesadaran disiplin perlu ditanamkan sejak dini.
Robert Maynard Hutchins, salah seorang tokoh perenial menyimpulkan, bahwa tugas pokok pendidikan adalah pengajaran. Pengajaran menunjukkan pengetahuan sedangkan pengetahuan itu sendiri adalah kebenaran. Kebenaran pada setiap manusia adalah sama, oleh karena itu, dimanapun dan kapanpun ia akan selalu sama.
Prinsip dasar pendidikan bagi aliran perenialisme adalah membantu peserta didik menemukan dan menginternalisasikan kebenaran abadi, karena memang kebenarannya mengandung sifat universal dan tetap. Kebenaran ini hanya dapat diperoleh hanya dapat diperoleh melalui latihan intelektual yang dapat menjadikan pikirannya teratur dan tersistematis sedemikian rupa. Dalam filsafat pendidikan Islam kebenaran abadi seperti ini tidak hanya didapat melalui latihan intelektual, tapi bahkan lebih penting yaitu latihan intuisi atau zauq.
Aliran perenialisme meyakini bahwa pendidikan adalah transfer ilmu pengetahuan tentang kebenaran abadi. Pengetahuan adalah sumber kebenaran, sebenarnya kebenaran selamanya memiliki kesamaan. Oleh karena itu pula maka penyelenggaraan pendidikan pun di mana-mana mestilah sama. Pendidikan mestilah mencari pola agar peserta didik dapat menyesuaikan diri bukan hanya pada kebenaran dunia saja, tetapi hendaknyalah kepada hakikat-hakikat kebenaran.
Di samping itu proses pendidikan tidak hanya transfer ilmu tetapi juga tranformasi ilmu dan internalisasi nilai. Prinsip-prinsip dasar seperti ini yang kemudian dikembangkan oleh Sayyed Husein Nasr, filosof Islam kontemporer yang mengatakan bahwa manusia memiliki fitrah yang sama yang berpangkal pada asal kejadiannya yang fitri yang berkonsekuensi pada watak kesucian dan kebaikan, sifatnya tidak akan pernah berubah karena prinsip-prinsipnya mengandung kontinuitas dalam setiap ruang dan waktu.
Perenialisme lebih cenderung pada subjek centered dalam kurikulum maupun dalam metode dan pendekatan yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Dalam kurikulum akan terlihat materi-materi yang akan mengarahkan pada kepentingan dan kebutuhan subjek didiknya dalam menumbuhkembangkan potensi berpikir, kreatif yang dimilikinya, sedangkan dalam metode pembelajaran, perenialisme mengutamakan metode yang selalu memberikan kebebasan berpikir peserta didik baik melalui metode diskusi, problem solving, penelitian dan penemuan.
Para perenialis memandang, bahwa tuntutan tertinggi dalam belajar adalah latihan dan disiplin mental. Para perenialis percaya, bahwa pemikiran subjek-subjek didik akan lebih nyata melalui pelatihan-pelatihan intelektual seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Sifat rasional manusia yang diyakini aliran ini telah pula menjadikannya mesti menyakini kebebasan individu, sehingga kebebasan dan kemerdekaan merupakan asas yang meski dihargai dalam penyelenggaraan kependidikan supaya subjek didik terbiasa berbuat atas kehendak dan kemauan sendiri yang akan berujung pada penanaman rasa tanggung jawab.
Program pendidikan yang ideal menurut perenialisme adalah berorientasi pada potensi dasar agar kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat dapat terpenuhi. Pandangan aliran di atas ada kesamaan dengan pendidikan Islam karena Islam mengakui adanya potensi dasar yang dimiliki manusia semenjak dilahirkan yang dikembangkan melalui proses pendidikan.
Makna hakiki dari belajar, menurut aliran ini adalah belajar untuk berpikir. Dengan cara melatih berpikir, subjek didik akan memiliki senjata ampuh untuk menghadapi berbagai rintangan yang akan menurunkan martabat kemanusiaannya. Tugas seorang subjek didik adalah mempelajari karya dalam berbagai literatur filsafat, sejarah dan sains, sehingga dengan demikian ia berkenalaan dengan berbagai prestasi di masa lalu menuju pembentukan pemikiran yang akan mengisi kehidupannya dalam meembangun prestasi-prestasinya pula.
Perenialisme membedakan belajar kepada dua wilayah besar, yaitu wilayah pengajaran dan wilayah penemuan. Yang pertama, belajar memerlukan bantuan guru. Guru dalam hal ini memberikan pengetahuan dan pencerahan keada subjek didik, baik dengan cara menunjukkan maupun menafsirkan implikasi dari pengetahuan yang diberikan. Sedangkan yang kedua, tidak lagi membutuhkan guru, karena subjek didik dalam pola ini diharapkan telah dapat belajar atas kemampuannya sendiri.
Perenialisme berpandangan bahwa meskipun substansi semua agama itu sama, tapi kehadiran substansi akan selalu dibatasi dan fungsinya terkait dengan bentuk, sehingga secara eksitorik dan operasional akan berbeda antara agama yang satu dengan agama yang lainnya. Setiap agama selalu otentik untuk zamannya meskipun secara substansial kebenarannya bersifat perenial, tidak dibatasi ruang dan waktu. Semua agama yang hadir adalah benar adanya, yang satu tidak menghapus dan menggantikan yang lain. Mungkin hal inilah yang dirasa sedikit ambigu sehingga menimbulkan pluralisme agama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar