ASAL-USUL KOTA TASIKMALAYA
Kantor Bupati Tasikmalaya Tahun 1925
Antara Sukapura dan Tasikmalaya berbilang riwayat yang
panjang. Dua nama yang berada di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat, ini silih
berganti menjadi nama wilayah administratif. Riwayatnya bisa kita gali dari
buku buku sejarah. Di antaranya kita bisa membaca tulisan “Sukapura
(Tasikmalaya)” karya Ietje Marlina yang dimuat dalam buku Sejarah Kota-kota
Lama di Jawa Barat (2000: 91-110) dan Sejarah Kota Tasikmalaya, 1820-1942 (2010),
karya Miftahul Falah. Dari kedua buku tersebut, nama pertama yang
mula-mula mengemuka dalam sejarah adalah Sukapura.
Pertama-tama nama ini merujuk kepada satu dari tiga
kabupaten di Priangan yang diresmikan oleh Sultan Agung dari Mataram pada 9
Muharam Tahun Alif yang bertepatan dengan 20 April 1641. Dua kabupaten lainnya
adalah Kabupaten Parakanmuncang dan Bandung.
Nama Sukapura menurut Babad Soekapoera (R. Kertianagara),
berasal dari kata “suka” yang berarti “asal” atau “tiang” dan “pura” berarti
“karaton” atau istana. Dengan demikian, Sukapura bisa mengandung arti
“djedjerna karaton” atau “asal-mula istana”, karena di tempat itulah kabupaten
Sukapura berdiri. Meskipun nama Sukapura bisa juga sebenarnya diambil dari nama
desa yang menjadi bawahan Distrik Sukaraja, karena kemudian terbukti Ki
Wirawangsa memindahkan ibukota kabupaten dari Dayeuh Tengah ke Leuwi Loa, yang
termasuk Desa Sukapura Onderdistrik Sukaraja.
Dilihat dari perkembangannya, sejak awal pendirian Kabupaten
Sukapura hingga tahun 1901, kota yang kini dikenal sebagai Tasikmalaya tidak
termasuk ke dalam wilayah Sukapura. Mulanya, ia masuk wilayah Kabupaten
Parakanmuncang dan Kabupaten Sumedang. Mula-mula Kota Tasikmalaya dikenal
sebagai bagian dari Umbul Galunggung atau Indihiang, yang termasuk Kabupaten
Parakanmuncang. Kemudian sejak 1820 muncul nama distrik Tasikmalaija op
Tjitjariang (Tasikmalaya atau Cicariang) dan inilah kali pertama nama
Tasikmalaya mengemuka dalam sejarah sebagai nama sebuah wilayah.
Pada 1839, Distrik Tasikmalaija op Tjitjariang diringkas
menjadi Distrik Tasikmalaija dan pada 1901 distrik tersebut dimasukkan sebagai
bagian dari wilayah Kabupaten Sukapura. Perubahan yang sangat berarti terjadi
pada 1913, karena sejak itu secara resmi Kabupaten Sukapura berubah nama
menjadi Kabupaten Tasikmalaya. Perubahan ini mengikuti nama ibukota kabupaten
sesuai dengan kebijakan kolonial Hindia Belanda.
Dari sisi toponiminya, nama Tasikmalaya menimbulkan berbagai
penafsiran. Dalam kedua buku di atas misalnya, ada dua pendapat yang menyatakan
asalusul nama Tasikmalaya. Pertama, nama itu terbentuk dari kata “tasik” dan
“laya”. “Tasik” berarti “keusik” atau pasir dan “laya” berarti “ngalayah” atau
menghampar. Jadi, Tasikmalaya diartikan sebagai “keusik ngalayah” atau pasir
yang menghampar akibat letusan Gunung Galunggung pada 8 dan 12 Oktober 1822.
Kedua, nama itu terbentuk dari kata “tasik” dan “malaya”.
“Tasik” berarti telaga, danau, atau air yang menggenang dan “malaya” berarti
jajaran gunung-gunung. Dengan demikian, Tasikmalaya dapat diartikan sebagai
jajaran gunung-gunung yang berjejer dalam jumlah yang banyak, seperti yang
terekam dalam ungkapan “Jajaran gunung-gunung téh lobana lir cai laut” yang
berkembang di masyarakat Tasikmalaya.
Pendapat kedua ini pun dihubungkan dengan letusan Galunggung
8 dan 12 Oktober 1822. Bedanya, tafsiran kedua menyertakan fenomena
terbentuknya sekitar 3.648 bukit kecil (hillocks) yang dikenal sebagai “10 ribu
bukit” di sekitar Tasikmalaya, akibat letusan tersebut.
Namun, bila merujuk kepada penamaan wilayah sebagaimana yang
dapat dibaca dari buku Miftahul Falah, kedua pendapat tersebut tertolak, karena
nama Tasikmalaya sebagai nama daerah sudah digunakan sejak tahun 1820, dua
tahun sebelum terjadinya letusan Galunggung pada 8 dan 12 Oktober 1822.
Penafsiran lainnya mengenai toponimi Tasikmalaya disampaikan
geologiawan senior M.M. Purbo Hadiwidjoyo pada muhibah kebumian 23-26 Januari
2013 dari Tasikmalaya hingga Banjarnegara. Di sela-sela perjalanan, antara lain
di Jembatan Cirahong dan Hotel MGriya Guest House, Purwokerto, Purbo
menerangkan bahwa kata Tasikmalaya berasal dari kata “tasik” yang berarti “danau”,
awalan kata kerja “ma-“ dan “laya” yang berarti “mati”. Sehingga pengertian
Tasikmalaya menurut Purbo adalah danau yang di dalamnya banyak mayat
terapung-apung.
Memang, penafsiran tersebut di kaitkan dengan kegiatan
Gunung Galunggung. Namun, kegiatannya bukan yang terjadi pada 1822, melainkan
jauh sebelum itu, bahkan ribuan tahun sebelum itu. Kala itu Gunung Galunggung
meletus sangat dahsyat. Ledakannya menghancurkan dinding timur Galunggung.
Lontarannya sampai ke Manonjaya dan menutup alur Sungai Citanduy Purba. Karena
tertutup, maka jadi danau. Air danaunya mula-mula mengalir ke selatan jadi
Sungai Cibulan. Sebagian airnya bergabung dengan air dari Galunggung,
Cakrabuana, dan gunung-gunung di sekitar Purwokerto yang dipengaruhi oleh
budaya Sunda atau bercorak Sunda, contohnya, Cilongok, Rancamaya, Baturaden,
Darmaraja, Tangkil, Pageraji, Pakuncen, Babakan, Cimerang, dan Paguyangan.
Hal ini, mungkin karena dulu di Purwokerto pernah berdiri
Kerajaan Pasir Luhur bagian dari Kerajaan Sunda-Galuh. Kali Serayu dan Bendung
Hidraulik Pertama di Gambarsari Hari kedua, mula-mula kmenepi di tepi jalan
yang berbatasan dengan Kali Serayu arah dari Purwokerto, setelah melewati dua
bukit tempat terowongan kereta api. Dari tempat itu ke arah hulu tampak
jembatan kereta api melintasi Kali Serayu, sedangkan ke arah hilir terlihat
bendung Gambarsari.
Sungai Serayu atau Kali Serayu, dulu dalam naskah Bujangga
Manik disebut juga Ci Sarayu, benar-benar merupakan sungai besar. Salah satu
mata airnya, bernama “Tuk Bima Lukar”, berada di dataran tinggi Dieng. Dari
hulunya di daerah Dieng hingga ke muaranya di dekat pantai Cilacap, sekitarnya,
sehingga membentuk Sungai Citanduy Baru yang alirannya memutar dan menembus ke
Cirahong. Saat letusan Galunggung itu, sudah ada manusia. Sehingga setelah
pembendungan Citanduy Purba oleh lahar Galunggung dan pembentukan tasik atau
danau, banyak penduduk di sekitarnya menjadi korban dan memenuhi danau itu,
sehingga daerah tersebut dinamakan Tasikmalaya.
Bagaimanapun, menafsir Tasikmalaya adalah upaya terbatas.
Tafsiran-tafsiran di atas adalah cara untuk mendekati kebenaran melalui bahasa
yang secara turuntemurun digunakan untuk merekam kejadian alam.
Penanda “tasik” yang disangkutkan dengan pasir maupun danau
dan “laya” yang disangkutkan dengan hamparan, jajaran gunung-gunung, atau
kematian, semuanya hendak membongkar petanda di balik kata Tasikmalaya yang
bertaut dengan peristiwa alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar