Pendidikan Dalam Kebudayaan
Pendidikan haruslah
bersesuaian dengan kebudayaan. Hal ini memunculkan aliran Perenialisme yang
muncul atau berkembang sebagai reaksi dan solusi yang diajukan atas terjadinya
suatu keadaan dimana dalam masyarakat modern sudah terjadi krisis kebudayaan yang
terganggu oleh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidak teraturan terutama dalam
kehidupan moral, intelektual, dan sosio kultural. Dengan terjadinya keadaan
tersebut, diperlukannya usaha untuk mengamankan ketidakteraturan tersebut,
yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umu yang
telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat, dan teruji.
Keyakinan ontologis
tentang manusia dan alam adalah landasan perenialisme. Dimana hakikat manusia
sebagai makhluk rasional yang akan selalu sama bagi setiap manusia dimanapun
dan sampai kapanpun dalam pengembangan kehidupannya. Pemikiran mereka bahwa
suatu kemajuan yang dialami manusia di satu masa akan dapat diterapkan pada
manusia lain pada masa dan tempat yang berbeda seperti halnya gotong-royong,
kerjasama, musyawarah dan lain-lain.
Aliran ini
berkeyakinan bahwa kendatipun dalam lingkungan dan tempat yang berdeda-beda
hakikatnya manusia tetap menunjukkan kesamaannya. Karena itu, pola dan corak pendidikan yang sama dapat
diterapkan kepada siapapun dan dimanapun ia berada, karena memang terlahir dari
hakikat yang sama sebagai makhluk yang rasional. Aliran ini berpendapat, bahwa
rasionalisme adalah hokum pertama yang akan tetap benar disegala waktu dan
tempat. Kesadaran dan kebebasan adalah bukti yang nyata bagi fungsi pemikiran
manusia, sebab kebebasan bertindak tergantung pada kekuatan berfikir, sehingga
otoritas berfikir adalah satu-satunya sumber kemerdekaan. Manusia yang bebas
adalah manusia yang berfikir.
·
Implementasi Kebudayaan Terhadap Pendidikan
Adapun aplikasi
kebudayaan dalam pendidikan bagi kaum perenialisme yaitu memandang education as
cultural regression pendidikan sebagai jalan kembali, atau proses mengembalikan
keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan masyarakat masa lampau yang
dianggap sebagai kebudayaan ideal.
Tugas
pendidikan adalah memberikan pengetahuan tentang nilai-nilai kebenaran yang
pasti, absolute, dan abadi yang terdapat dalam kebudayaan masa lampau yang
dianggap sebagai kebudayaan ideal tersebut. Sejalan dengan hal tersebut, penganut
perenialisme percaya bahwa prinsip-prinsip pendidikan juga bersifat universal
dan abadi.
Pendidikan
diharapkan sesuai dengan kebudayaan yaitu antara lain dengan :
1.
Tujuan umum pendidikan
Tujuan
haruslah untuk membantu anak menyingkap dan menanamkan kebenaran-kebenaran
hakiki atau yang bersifat kekal. Oleh Karena itu kebenaran-kebenaran itu
universal dan konstan, maka kebenaran-kebenaran itu hendaknya menjadi
tujuan-tujuan pendidikan yang murni. Kebenaran-kebenaran yang hakiki dapat
dicapai sebaik-baiknya melalui :
a.
Latihan intelektual secara cermat untuk melayih
pikiran
b.
Latihan karakter sebagai suatu cara
mengembangkan manusia spiritual
2.
Hakikat guru
Tugas utama pendidikan adalah guru-guru, dimana tugas
pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran atau pengetahuan kepada
anak didik. Factor keberhasialan anak dalam dalam akalnya sangat tergantung
pada guru, dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan. Berikut
pandangan perenialisme mengenai guru atau pendidikan :
a.
Guru mempunyai peranan dominan dalam penyelenggaraankegiatan
belajar-mengajardi kelas
b.
Guru hendaknya orang yang menguasai suatu cabang
ilmu, seorang guru yang ahli bertugas membimbing diskusi yang akan memudahkan
siswa menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang tepat, dan wataknya tanpa cela.
Guru dipandang sebagai orang yang memiliki otoritas dalam suatu bidang pengetahuan
dan keahliannya tidak diragukan.
3.
Hakikat murid
Murid dalam aliran perenialisme merupakan makhluk dibimbing
oleh prinsip-prinsip pertama, kebenaran-kebenaran abadi, pikiran mengankat
dunia biologis. Hakikat pendidikan upaya transformasi pengetahuan dan nilai
kepada subjek didik, mencakup totalitas aspek kemanusiaan, kesadaran, sikap dan
tindakan kritis terhadap seluruh fenomena yang terjadi di sekitarnya.
Pendidikan bertujuan mencapai pertumbuhan kepribadian
manusia yang menyeluruh secara seimbang melalui pelatihan jiwa, intelek, diri
manusia yang rasional; perasaan dan indera. Karena itu pendidikan harus
mencakup pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya : spiritual, intelektual,
imajinatif, fisik, ilmiah, bahasa, baik secara individual maupun secara
kolektif, dan mendorong semua aspek ini kearah kebaikan dan mencapai
kesempurnaan.
4.
Proses belajar mengajar
Tuntutan tertinggi dalam belajar menurut Perenialisme,
adalah latihan dan disiplin mental. Maka, teori dan praktik pendidikan haruslah
mengarah kepada tuntutan tersebut. Teori dasar dalam belajar menurut
Perenialisme terutama :
a.
Mental disiplin sebagai teori dasar
b.
Rasionalitas dan asas kemerdekaan
c.
Belajar untuk berfikir
Bagaiman tugas berat ini dapat
dilaksanakan, yakni supaya mampu berfikir. Perenialisme tetap percaya dengan
asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan pendidikan anak. Kecakapan membaca,
menulis, dan berhitung merupakan landasan dasar. Dan berdasarkan tahapan itu, maka
learning to reason menjadi tujuan pokok pendidikan sekolah menengah dan
pendidikan tinggi
d. belajar sebagai persiapan hidup
Belajar
untuk dapat berfikir bukanlah semata-mata tujuan kebajikan moral dan kebajikan
intelektual dalam rangka aktualitas sebagai filosofis. Belajar untuk berfikir
berarti pula guna memenuhi fungsi practical philosophy baik etika, sosial
politik, ilmu dan seni.
5. Kurikulum
Kurikulum menurut kaum perenialis
harus menekankan pertumbuhan intelektual siswa pada seni dan sains. Kurikulum
perenialis hutchins didasarkan pada tiga asaumsi mengenai pendidikan :
a.
Pendidikan harus mengangkat pencarian kebenaran
manusia yang berlangsung terus menerus.
b.
Karena kerja fikiran adalah bersifat intelektual
dan memfokuskan pada gagasan-gagasan, pendidikan juga harus memfokuskan pada
gagasan-gagasan pengolahan rasionalitas manusia adalah fungsi penting
pendidikan..
c.
Pendidikan harus menstimulus para mahasiswa
untuk berfikir secara mendalam mengenai gagasan-gagasan signifikan. Para guru
harus menggunakan pemikiran yang benar dan kritis seperti metode pokok mereka, dan
mereka harus mensyaratkan hal yang sama pada siswa.
Mortimer
adler sebagai salah satu seorang pendukung perenialisme ini mengatakan, bahwa
jika seorang manusia adalah makhluk rasional yang merupakan hakikat yang
senantiasa itu di sepanjang sejarahnya, maka tentulah manusia memiliki gambaran
yang tetap pula dalam hal program pendidikan dengan tidak mengikutkan peradaban
dan masa tertentu. Sayyed husein nasr mengatakan bahwa karakteristikmanusia
tidak lain adalah rasionalitas, yang merupakan sifat manusia yang hakiki. Maka
aliran ini berpendapat bahwa sesungguhnya ilmu pengetahuan sebagai produk dan
prestasi manusia dimanapun dan kapanpun akan selalu sama, karena memang
bersumber dari hakikat yang sama.
Aristoteles
sebagai salah satu tokoh yang menjadi rujukan aliran ini menekankan bahwa
melatih dan membiasakan diri merupakan hal yang mendasar bagi pengembangan
kualitas manusia. Oleh karena itu, kesadaran disiplin perlu ditanamkan sejak
dini.
Robert
Maynard Hutchins, salah satu seorang tokoh perenial menyimpulkan, bahwa tugas
pokok pendidikan adalah pengajaran. Pengajaran menunjukkan pengetahuan
sedangkan pengetahuan itu sendiri adalah kebenaran.
Prinsip dasar
pendidikan bagi aliran perenialisme adalah membantu peserta didik menemukan kebenaran abadi
karena memang kebenarannya mengandung sifat universal dan tetap. Perenialisme
membedakan belajar kepada dua wilayah besar, yaitu wilayah pengajaran dan
wilayah penemuan. Yang pertama, belajar memerlukan bantuan guru. Guru dalam hal
ini memberikan pengetahuan dan pencerahan kepada subjek didik, baik dengan cara
menunjukkan maupun menafsirkan implikasi dari pengetahuan yang diberikan.
Sedangkan yang kedua, tidak lagi membutuhkan guru, karena subjek didik dalam
pola ini diharapkan telah dapat belajar atas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar