FILSAFAT KETUHANAN RONGGOWARSITO
Tuhan digambarkan sebagai Dzat yang berkehendak dan berkarya secara
aktif. Sebagai pencipta dan penguasa alam semesta dengan adanya sifat, asma,
dan af’al ini berarti Wirid Hidayat Jati mengajarkan bahwa
ketuhanan yang bersifat Theis bukan Atheis. Dalam serat ini Tuhan diposisikan
berada di dalam alam (immanent), karena teori yang digunakan adalah
emanasi. Ini ditunjukkan dalam proses penciptaan alam semesta (termasuk
manusia),yang dikenal dengan martabat tujuh.
Pada umunya faham yang demikian tidak mengenal penciptaan dalam creatio
ex nihilo.1 Karena melihat kilas balik awal mula berkembangnya ajaran Islam
di tanah Jawa melalui para pedagang yang kebanyakan bercorak tasawuf falsafi
yang rasional, dan dari inilah orang Jawa mengembangkan kebatinan,
mengembangkan doktrin-doktrin sinkretik Al-Hallaj melalui Syekh Siti Jenar
(Tanah Merah atau Lemah Abang) dan Hamzah Fansuri di Aceh. Maka konsep
ketuhanan dalam Wirid Hidayat Jati mengetengahkan konsep tentang Tuhan
yang bersifat immanent (berada di dalam alam semesta) tapi juga bisa
dikatakan transcendent (di luar alam semesta) meski Dr. Simuh mengatakan
bahwa konsep tentang Tuhan dalam serat tersebut bersifat immanent bukan
transcendent.2Tapi penulis melihat, dalam Wirid Hidayat Jati Tuhan
selain di anggap immanent melainkan juga mengenal sifat transcendent.
Transcendent dalam filsafat berarti berada jauh di luar alam atau dalam
pengertian tidak mempunyai kaitan atau hubungan dengan alam, demikian pula immanent
dalam filsafat yang berarti berada di alam atau menyatu dengan alam.
Sedangkan dalam theisme, transcendent berarti bahwa Tuhan itu berada di
luar alam tetapi senantiasa mempunyai hubungan yang dekat dengan makhluk
ciptaann-Nya. Setelah mencipta alam atau manusia, Tuhan senantiasa memelihara
dan memberikan pertolongan dan pengawasan kepada makhluk-Nya. Demikian juga immanent
pengertian immanent dalam theisme tidak berarti bersatu dengan alam
tetapi berarti dekat, senantiasa memperthatikan makhluk-Nya.
Sebab
ketika dalam proses ekstase (wahda) Tuhan dapat diposisikan immanent,4kalau
dalam istilah Jawa Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng siro uga ana
pangeran.5 Jika tidak dalam kondisi ekstase Tuhan itu bisa
Jadi ajaranya monistis yang panteistis, bukan monistis yang nihilistis
atau materialistis.dikatakan transcendent, tapi bukan dalam artian yang
sebenarnya. Karena transcendent itu Tuhan ditempatkan di luar kosmos,
padahal dalil mengatakan bahwa Tuhan itu bisa ada di mana-mana6 kalau istilah
Jawa Pangeran iku ana ing ngendi papan. Jadi kedua konsep tersebut kalau
diistilahkan dalam bahasa Jawa : Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng
siro uga ana pangeran, nanging aja siro wani ngaku pangeran, Pangeran iku adoh
tanpa wewangenan, cedhak tanpa senggolan, Gusti kuwi tan adoh, tunggal tan
pisah, tegese Gusti kuwi tan kena kinaya ngapa. (Tuhan ada di mana saja, di
dalam dirimu juga ada, namun kamu jangan berani mengaku sebagai Tuhan, Tuhan
itu berada jauh namun tidak ada jarak, dekat tidak bersentuhan,Tuhan itu jauh,
tunggal tidak terpisah, jadi Tuhan itu tidak bisa digambarkan atau dibayangkan
dengan sesuatu).
Ini semua tidak terlepas dari pemikiran
yang berkembang dikala itu, yaitu di mana ajaran Islam di tanah Jawa bercorak
tasawuf falsafi yang rasional, yang mengembangkan doktrin-doktrin sinkretik
Ibnu Arabi, Al-Hallaj melalui Syekh Siti Jenar (Tanah Merah atau Lemah Abang)
dan Hamzah Fansuri di Aceh. Seperti yang telah diterangkan dalam Bab III, di
mana kerangka pikiran tentang
Tuhan dan penciptaan manusia beserta
alam semesta bersumber dari ajaran martabat tujuh yang digubah dari kitab Tuhfat
karya Muhammad Ibnu Fadhlullāh yang kemudian di sebarkan melalui Hamzah
Fansuri. Sedangka penghayatan gaib sampai manunggaling kawula lan Gusti bersumber
dari ajaran Serat Dewaruci. Lebih lanjut lagi dalam tesis yang ditulis
oleh Muhammad Irfan Riyadi Pasca IAIN Sunan Ampel yang berjudul Wahdat
al-wujud dalam Konsepsi filsafat sufi Ibnu Arabi dan Ronggowarsito telaah
perbandingan, ternyata dalam tesis ini terbukti bahwa pemikiran Ibnu Arabi
memiliki rangkaian historis penyebaran ajaran melewati jaringan para tokoh sufi
Arab, India, Melayu hingga Ronggowarsito dan keduanya memiliki kesamaan dalam
konsepsi wujud Tuhan dan hubungannya dengan makhluk, serta insal kamil.
Keduanya berpendapat bahwa hakekat wujud mutlak milik Tuhan semata, sedangkan
wujud makhluk sifatnya nisbi karena wujud makhluk itu pada dasarnya adalah
wujud tajalli Tuhan. Ini dipertegas dalam ajaran penciptaan atau sangkan
paraning dumadi, melalui tujuh martabat menurun (tanazul) manusia
bisa mencapi penghayatan manunggal dengan Tuhan melalui samadi (manekung
anukung samadi). Dengan samadi manusia bisa mengalami penghayatan
gaib tujuh jenjang ke atas (taraqi) dan mencapi penghayatan manunggal
kembali dengan Tuhan, maka inilah yang disebut dengan bahwa Tuhan itu immanent
dan inilah yang di sebut dalam keadaan ekstase.
Jelaslah dari sini, bahwa paham
ketuhanan Ronggowarsito itu pada dasarnya bersifat transcendet dan ada
kalanya bersifat immanent jika dalam keadaan ekstase (wahda),
dalam Wirid Hidayat Jati ini bisa terjadi jika melakukan samadi (ini
dipersiapan untuk menghadapi kematian).
Pada paparan di atas, penulis menangkap
akan adanya pengaruh ajaran manunggaling kawula lan Gusti Syekh Siti
Jenar (Lemah Abang). Ajaran tersebut diambil dari kitab Catur Viphala
karya Prabu Kertawijaya Majapahit.11 Isi ajaran tersebut ; Pertama, nihsprha,
adalah suatu keadaan di mana tidak ada lagi sesuatu yang ingin dicapai manusia.
Kedua, nirhana, yaitu seseorang tidak lagi merasakan memiliki badan dan
karenanya tidak ada lagi tujuan. Ketiga, niskala adalah proses rohani
tinggi, “bersatu” dan melebur (fana’) dengan Dia Yang Hampa, Dia yang
tak terbayangkan, tak terpikirkan, tak terbandingkan. Sehingga dalam kondisi
(hal) ini, “aku” menyatu dengan “Aku”. Dan keempat, sebagai kesudahan dari niskala
adalah nirasraya, suatu keadaan jiwa yang meninggalkan niskala dan
melebur ke Parama-Laukika (fana’fi al-fana’), yakni dimensi tertinggi
yang bebas dari segala bentuk keadaan, tak mempunyai ciri-ciri dan mengatasi
“Aku”.
Bila disederhanakan dari proses ajaran
ketuhan Ronggowarsito ini memberi pengaruh besar terhadap pemikiran Kejawen
dalam falsafah hidup yaitu “sapa ingsun” sehingga terjadi jenjang
tahapan untuk mengetahuinnya, yaitu sangkan paraning Dumadi, Manunggaling
kawula lan Gusti serta Kasèdan Jatỉ”
Dapat dilihat pengaruh-pengaruh ajaran Ronggowarsito dalam Serat
Wirid Hidayat Jati nya antara lain:
a. Sumarah
1. Mereka meyakini bahwa Dzat Tuhan Yang Maha
Esa berada dalam manusia yang diwakili oleh hidup (hayyu). Ini sama
dengan Hidup manusia dikatakan katitipan (mengandung) rahsa Dzat
yang Agung. Karena manusia mengandung Dzat yang Agung, maka Dzat yang agung
itulah yang bersabda: “Tiada Tuhan kecuali Aku”, dengan perantara mulut
manusia.12
2. Menurut paham ini bahwa jiwa manusia itu
adalah pletikan dari Tuhan. Dalam Wirid Hidayat Jati di jelaskan
secara gamblang mengenai proses penciptaan alam semesta (termasuk
manusia) dalam martabat tujuh. Sehingga warga (paguyupan) Sumarah ini
mengunakan konsep emanasi atau suatu mode bagaimana yang mutlak atau infinite
menjadi terbatas (finite), singkat kata menurut Sumarah jiwa manusia
mengalir dari Tuhan.
3. Dan yang terakhir paham Sumarah mempercayai
bersatunya jiwa dengan zat Yang Maha Esa (manunggaling kawula lan Gusti)
dan ini salah satu dari unsur aliran kebatinan manapun dan termasuk dari
falsafah hidup Kejawen.
b. Susila Budi Darma (SUBUD)
Sesuai dengan namanya Susila artinya : budi-pekerti manusia yang
baik, sejalan dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Budhi artinya : daya
kekuatan diri pribadi yang ada pada diri manusia. Dharma artinya : penyerahan,
ketawakalan dan keikhlasan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Maka paguyupan ini
lebih mefokuskan ajaran mereka kepada Sangkan Paran sehingga menuju
titik punjak yaitu Manunggaling kawula lan Gusti dalam istilah mereka
terjadinya kontak dengan kekusaan Tuhan Yang Maha Esa sehingga menerima
getaran-getaran hidup yang menggetarkan rasa diri, dan kegetaran itu
menunjukkan gerak Tuhan. Sehingga segala perbuatan dan ucapannya berarti
kehendak dari Tuhannya. Kalau dalam Serat Wirid Hidayat Jati di
terangkan bahwa Lantaran Tuhan bersabda, mendengar, melihat, merasakan segala
rasa, serta berbuat mempergunakan tubuh manusia.13
c. Paguyupan Ngesti Tunggal (Pangestu)
Dari aliran kebatinan yang dibahas di atas, Pangestulah
yang nampak jelas yang terpengaruhi dengan konsep ketuhanan Ronggowarsito,
yaitu dimana dalam konsep ketuhanan mereka, yang disebut Tripurusha keadaaan
satu yang bersifat tiga, sifat ini manunggal menjadi satu dan tidak
dipisah-pisahkan. Tripurusha merupakan sumber dari segala kebenaran yang
tak kenal ruang, batas dan waktu, serta asal usul dunia. Yang kemudian
dijabarkan menjadi suksma Kawekas yang dalam Wirid Hidayat Jati sebagai
Ahadiyat. Kemudian Suksma Sejati kalau dalam Wirid Hidayat
Jati disebut Nur Muhammad (wahdat), dan Sedangkan Roh Suci yang
merupakan penciptaan sinar Tuhan bisa dibandingkan dengan Roh Kudus, yang
menjadi jiwa manusia sejati, dalam Wirid Hidayat Jati adalah Roh
Idlafi.
d. Bratakesawa
Ajaran ketuhanan dalam Bratakesawa ini masih sebatas
mencakup personal, sehingga bagi Bratakesawa Tuhan tidak dapat di bayangkan
atau digambarkan. Yang jelas dalam Bratakesawa proses penciptaan manusia (alam
semesta) ini melalui emanasi. Maka Purusha itu bentuk pengejawantahan
Tuhan Allah di alam dhahir ini (hulul) atau Jiwatman dalam
bahasa Hinduisme yaitu Atman yang telah menyatu dan bersemayam dalam
manusia. Begitu juga dalam Serat Wirit Hidayat Jati bahwa atman atau
atma (hayyu) adalah hakikat Dzat yang pasti paling dahulu yang
menjadi wahana alam Ahadiyat yang menjadi cikal-bakal kehidupan.Dan Iswara
sendiri mempunyai peranan apabila Dia menyatu ke dalam bentuk yang dhahir
(manusia/ alam). Kalau kita lihat pembagian Tuhan yang ada dalam ajaran
Bratakesawa yaitu Purusha dan Iswara ini sama halnya dengan
bembahasan tentang Dzat dan sifat Tuhan dan Wirid Hidayat Jati. Dan
dalam proses penciptaan ini terpengaruh dalam martabat tujuh dalam Wirid
Hidayat Jati ini. Seperti yang dikatan Bratakesawa dalam bukunya Kunci
Swarga: “Ketahuilah oleh mu, semua orang itu, baik laki-laki maupun
perempuan, tua maupun muda, kaya maupun miskin, tanpa memandang bangsa maupun
agamanya,..wujud hidupnya terdiri dari : 1. Disemayami Sang Halus; 2. Badan
halus dengan peralatan yang halus; . Badan kasar (wadhag, jasmani) yang
nampak ini dengan peralatannya yang jasmani (kasar) juga.” Ini sama halnya
dalam Wirid Hidayat Jati tentang pembahasan unsur dalam manusia, baik
yang bersifat rohani maupun jasmani.
Dari paparan di atas menunjukkan bagaimana pengaruh pemaham
ketuhanan Ronggowarsito dalam Serat Wirid Hidayat Jati-nya yang
sebenarnya banyak menyerap dari kitab-kitab yang menjadi pedoman orang Jawa.
Misalnya, istilah-istilah ataupun ajaran yang terkadung di dalamnya telah
terdapat berserakan dalam Serat Centhini (ini salah satu babon kitab etika
orang Jawa). Kemudian kerangka pikiran tentang Tuhan dan penciptaan alam
semesta (termasuk manusia) bersumber dari ajaran tasawuf yang berkembang sejak
abad 17 di Aceh yaitu martabat tujuh, yang merupakan pengembangan dari ajaran
tasawuf Ibnu Arabi.
Ajaran ontologi yang terdapat dalam berbagai aliran yang berada pada
kitab, seperti Serat Dewarusi (Bima Suci), Suluk Syekh Siti
Jenar,ajaran kebatinan Pangestu, SUBUD, Bratakesawa, Sumarah, dan
sebagainya, cenderung mengunakan doktrin manunggaling kawulo lan Gusti sebagai
rujukan untuk melegitimasi keabsahan alirannya di kalangan penganut kejawen
(Kejawen). Sehingga pada saat ini doktrin Ronggowarsito telah kehilangan wajah
Islmanya menjadi wajah kejawen yang telah meleceng jauh dari rel Islam, meski
tidak semua penganut Kejawen meninggalkan wajah Islam murni.
Dalam hal ini penulis melihat ada kelebihan dan kekurangan dari
penganut Kejawen. Kelebihan dari penganut Kejawen, yaitu di mana mereka
memegang
teguh apa yang menjadi falsafat hidup mereka (aja dumeh, aja kagetan, aja
Gumunan), dari segi hubungan dengan sesama manusia dan alam semesta sangat
di jaga. Adapun bagi penulis yang menjadi kekurangan dari penganut Kejawen, di
mana mereka lebih menitiktekankan pada sesuatu yang bersifat batin. Sebab bagi
mereka Tuhan ada berada dalam diri kita yang disimbolkan dalam tarikan nafas
kita yaitu hu. Selagi kita bisa bernafas itu menunjukkan kita masih
hidup dan itu menjadi tali pendekatan dengan Sang Maha Hidup (hayyu).
Mereka menafikan hubungan dengan Tuhan dengan fisik (syariat), karena mereka
sering melihat sendiri banyak masyarakat yang menjalankan tuntunan syariat tapi
hanya sebatas mengerjakan, dalam artian sebatas kulit luarnya, ini memang
menjadi ‘sentilan’ bagi mereka yang hanya sebatas mengerjakan ibadah yang
nampak saja (ingin dilihat, tanpa penghayatan).
Tuhan itu suci, jadi yang dapat menghadapnya yaitu jiwa yang suci (ruh)
bukan badan yang kotor. Mereka menganalogikakan, ketika kita makan buah
rambutan maka kita tidak langsung memakannya, akan tetapi mengupas kulitnya,
karena yang dimakan itu dalamnya bukan kulitnya.
Inilah yang menurut hemat penulis menjadi salah satu kelemahan atau
kekurangn dari Kejawen, padahal kalau kita melihat kembali proses penciptaan
manusia, di mana manusia itu terbagi manjedi dua yaitu raga (fisik) yang
tercipta dari empat unsur; tanah, udara, api, air dan yang bersifat kasat mata
yaitu ruh. Ruh itu sendiri suci karena percikan dari Tuhan. Sedangkan Tuhan
menciptakan segala sesuatu pasti mempunyai maksudnya. Karena jasad ini terbuat
dari yang bersifat materi, maka untuk memenuhi kebutuhannya Tuhan menciptakan
segala sesuatu dari perut bumi (alam semesta) karena wadah (fisik) manusia dari
sana. Sedangkan ruh itu langsung berasal dari Tuhan, maka untuk memenuhi
kebutuhannya diambil langsung dari Tuhan yaitu berupa aturan-aturan yang
langsung dari Tuhan (syariat-Nya). Seperti apa yang di katan oleh filsuf Yunani
yaitu Plato, dia mengatakan bahwa manusia itu terdiri dari dua bersifat
kebendaan (materi) dan bersifat ruh. Jika seseorang condong mengarah kebendaan
maka tunggulah kehancurannya. Tetapi ketika dia condong ke arah ruhani maka dia
akan mencapai kebahagiaan. Akan tetapi karena ruhani bersifat metafisik, maka
pendekatannya melalui pendekatan spiritual yang itu sangatlah sulit ditempuh
karena akan banyak rintangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar