Kamis, 18 Desember 2014

filsafat : filsafat ketuhanan Ronggowarsito




FILSAFAT KETUHANAN RONGGOWARSITO

Tuhan digambarkan sebagai Dzat yang berkehendak dan berkarya secara aktif. Sebagai pencipta dan penguasa alam semesta dengan adanya sifat, asma, dan af’al ini berarti Wirid Hidayat Jati mengajarkan bahwa ketuhanan yang bersifat Theis bukan Atheis. Dalam serat ini Tuhan diposisikan berada di dalam alam (immanent), karena teori yang digunakan adalah emanasi. Ini ditunjukkan dalam proses penciptaan alam semesta (termasuk manusia),yang dikenal dengan martabat tujuh.
Pada umunya faham yang demikian tidak mengenal penciptaan dalam creatio ex nihilo.1 Karena melihat kilas balik awal mula berkembangnya ajaran Islam di tanah Jawa melalui para pedagang yang kebanyakan bercorak tasawuf falsafi yang rasional, dan dari inilah orang Jawa mengembangkan kebatinan, mengembangkan doktrin-doktrin sinkretik Al-Hallaj melalui Syekh Siti Jenar (Tanah Merah atau Lemah Abang) dan Hamzah Fansuri di Aceh. Maka konsep ketuhanan dalam Wirid Hidayat Jati mengetengahkan konsep tentang Tuhan yang bersifat immanent (berada di dalam alam semesta) tapi juga bisa dikatakan transcendent (di luar alam semesta) meski Dr. Simuh mengatakan bahwa konsep tentang Tuhan dalam serat tersebut bersifat immanent bukan transcendent.2Tapi penulis melihat, dalam Wirid Hidayat Jati Tuhan selain di anggap immanent melainkan juga mengenal sifat transcendent. Transcendent dalam filsafat berarti berada jauh di luar alam atau dalam pengertian tidak mempunyai kaitan atau hubungan dengan alam, demikian pula immanent dalam filsafat yang berarti berada di alam atau menyatu dengan alam. Sedangkan dalam theisme, transcendent berarti bahwa Tuhan itu berada di luar alam tetapi senantiasa mempunyai hubungan yang dekat dengan makhluk ciptaann-Nya. Setelah mencipta alam atau manusia, Tuhan senantiasa memelihara dan memberikan pertolongan dan pengawasan kepada makhluk-Nya. Demikian juga immanent pengertian immanent dalam theisme tidak berarti bersatu dengan alam tetapi berarti dekat, senantiasa memperthatikan makhluk-Nya.
Sebab ketika dalam proses ekstase (wahda) Tuhan dapat diposisikan immanent,4kalau dalam istilah Jawa Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng siro uga ana pangeran.5 Jika tidak dalam kondisi ekstase Tuhan itu bisa
Jadi ajaranya monistis yang panteistis, bukan monistis yang nihilistis atau materialistis.dikatakan transcendent, tapi bukan dalam artian yang sebenarnya. Karena transcendent itu Tuhan ditempatkan di luar kosmos, padahal dalil mengatakan bahwa Tuhan itu bisa ada di mana-mana6 kalau istilah Jawa Pangeran iku ana ing ngendi papan. Jadi kedua konsep tersebut kalau diistilahkan dalam bahasa Jawa : Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng siro uga ana pangeran, nanging aja siro wani ngaku pangeran, Pangeran iku adoh tanpa wewangenan, cedhak tanpa senggolan, Gusti kuwi tan adoh, tunggal tan pisah, tegese Gusti kuwi tan kena kinaya ngapa. (Tuhan ada di mana saja, di dalam dirimu juga ada, namun kamu jangan berani mengaku sebagai Tuhan, Tuhan itu berada jauh namun tidak ada jarak, dekat tidak bersentuhan,Tuhan itu jauh, tunggal tidak terpisah, jadi Tuhan itu tidak bisa digambarkan atau dibayangkan dengan sesuatu).
Ini semua tidak terlepas dari pemikiran yang berkembang dikala itu, yaitu di mana ajaran Islam di tanah Jawa bercorak tasawuf falsafi yang rasional, yang mengembangkan doktrin-doktrin sinkretik Ibnu Arabi, Al-Hallaj melalui Syekh Siti Jenar (Tanah Merah atau Lemah Abang) dan Hamzah Fansuri di Aceh. Seperti yang telah diterangkan dalam Bab III, di mana kerangka pikiran tentang
Tuhan dan penciptaan manusia beserta alam semesta bersumber dari ajaran martabat tujuh yang digubah dari kitab Tuhfat karya Muhammad Ibnu Fadhlullāh yang kemudian di sebarkan melalui Hamzah Fansuri. Sedangka penghayatan gaib sampai manunggaling kawula lan Gusti bersumber dari ajaran Serat Dewaruci. Lebih lanjut lagi dalam tesis yang ditulis oleh Muhammad Irfan Riyadi Pasca IAIN Sunan Ampel yang berjudul Wahdat al-wujud dalam Konsepsi filsafat sufi Ibnu Arabi dan Ronggowarsito telaah perbandingan, ternyata dalam tesis ini terbukti bahwa pemikiran Ibnu Arabi memiliki rangkaian historis penyebaran ajaran melewati jaringan para tokoh sufi Arab, India, Melayu hingga Ronggowarsito dan keduanya memiliki kesamaan dalam konsepsi wujud Tuhan dan hubungannya dengan makhluk, serta insal kamil. Keduanya berpendapat bahwa hakekat wujud mutlak milik Tuhan semata, sedangkan wujud makhluk sifatnya nisbi karena wujud makhluk itu pada dasarnya adalah wujud tajalli Tuhan. Ini dipertegas dalam ajaran penciptaan atau sangkan paraning dumadi, melalui tujuh martabat menurun (tanazul) manusia bisa mencapi penghayatan manunggal dengan Tuhan melalui samadi (manekung anukung samadi). Dengan samadi manusia bisa mengalami penghayatan gaib tujuh jenjang ke atas (taraqi) dan mencapi penghayatan manunggal kembali dengan Tuhan, maka inilah yang disebut dengan bahwa Tuhan itu immanent dan inilah yang di sebut dalam keadaan ekstase.
Jelaslah dari sini, bahwa paham ketuhanan Ronggowarsito itu pada dasarnya bersifat transcendet dan ada kalanya bersifat immanent jika dalam keadaan ekstase (wahda), dalam Wirid Hidayat Jati ini bisa terjadi jika melakukan samadi (ini dipersiapan untuk menghadapi kematian).
Pada paparan di atas, penulis menangkap akan adanya pengaruh ajaran manunggaling kawula lan Gusti Syekh Siti Jenar (Lemah Abang). Ajaran tersebut diambil dari kitab Catur Viphala karya Prabu Kertawijaya Majapahit.11 Isi ajaran tersebut ; Pertama, nihsprha, adalah suatu keadaan di mana tidak ada lagi sesuatu yang ingin dicapai manusia. Kedua, nirhana, yaitu seseorang tidak lagi merasakan memiliki badan dan karenanya tidak ada lagi tujuan. Ketiga, niskala adalah proses rohani tinggi, “bersatu” dan melebur (fana’) dengan Dia Yang Hampa, Dia yang tak terbayangkan, tak terpikirkan, tak terbandingkan. Sehingga dalam kondisi (hal) ini, “aku” menyatu dengan “Aku”. Dan keempat, sebagai kesudahan dari niskala adalah nirasraya, suatu keadaan jiwa yang meninggalkan niskala dan melebur ke Parama-Laukika (fana’fi al-fana’), yakni dimensi tertinggi yang bebas dari segala bentuk keadaan, tak mempunyai ciri-ciri dan mengatasi “Aku”.
Bila disederhanakan dari proses ajaran ketuhan Ronggowarsito ini memberi pengaruh besar terhadap pemikiran Kejawen dalam falsafah hidup yaitu “sapa ingsun” sehingga terjadi jenjang tahapan untuk mengetahuinnya, yaitu sangkan paraning Dumadi, Manunggaling kawula lan Gusti serta Kasèdan Jatỉ”
Dapat dilihat pengaruh-pengaruh ajaran Ronggowarsito dalam Serat Wirid Hidayat Jati nya antara lain:
a. Sumarah
1. Mereka meyakini bahwa Dzat Tuhan Yang Maha Esa berada dalam manusia yang diwakili oleh hidup (hayyu). Ini sama dengan Hidup manusia dikatakan katitipan (mengandung) rahsa Dzat yang Agung. Karena manusia mengandung Dzat yang Agung, maka Dzat yang agung itulah yang bersabda: “Tiada Tuhan kecuali Aku”, dengan perantara mulut manusia.12
2. Menurut paham ini bahwa jiwa manusia itu adalah pletikan dari Tuhan. Dalam Wirid Hidayat Jati di jelaskan secara gamblang mengenai proses penciptaan alam semesta (termasuk manusia) dalam martabat tujuh. Sehingga warga (paguyupan) Sumarah ini mengunakan konsep emanasi atau suatu mode bagaimana yang mutlak atau infinite menjadi terbatas (finite), singkat kata menurut Sumarah jiwa manusia mengalir dari Tuhan.
3. Dan yang terakhir paham Sumarah mempercayai bersatunya jiwa dengan zat Yang Maha Esa (manunggaling kawula lan Gusti) dan ini salah satu dari unsur aliran kebatinan manapun dan termasuk dari falsafah hidup Kejawen.
b. Susila Budi Darma (SUBUD)
Sesuai dengan namanya Susila artinya : budi-pekerti manusia yang baik, sejalan dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Budhi artinya : daya kekuatan diri pribadi yang ada pada diri manusia. Dharma artinya : penyerahan, ketawakalan dan keikhlasan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Maka paguyupan ini lebih mefokuskan ajaran mereka kepada Sangkan Paran sehingga menuju titik punjak yaitu Manunggaling kawula lan Gusti dalam istilah mereka terjadinya kontak dengan kekusaan Tuhan Yang Maha Esa sehingga menerima getaran-getaran hidup yang menggetarkan rasa diri, dan kegetaran itu menunjukkan gerak Tuhan. Sehingga segala perbuatan dan ucapannya berarti kehendak dari Tuhannya. Kalau dalam Serat Wirid Hidayat Jati di terangkan bahwa Lantaran Tuhan bersabda, mendengar, melihat, merasakan segala rasa, serta berbuat mempergunakan tubuh manusia.13
c. Paguyupan Ngesti Tunggal (Pangestu)
Dari aliran kebatinan yang dibahas di atas, Pangestulah yang nampak jelas yang terpengaruhi dengan konsep ketuhanan Ronggowarsito, yaitu dimana dalam konsep ketuhanan mereka, yang disebut Tripurusha keadaaan satu yang bersifat tiga, sifat ini manunggal menjadi satu dan tidak dipisah-pisahkan. Tripurusha merupakan sumber dari segala kebenaran yang tak kenal ruang, batas dan waktu, serta asal usul dunia. Yang kemudian dijabarkan menjadi suksma Kawekas yang dalam Wirid Hidayat Jati sebagai Ahadiyat. Kemudian Suksma Sejati kalau dalam Wirid Hidayat Jati disebut Nur Muhammad (wahdat), dan Sedangkan Roh Suci yang merupakan penciptaan sinar Tuhan bisa dibandingkan dengan Roh Kudus, yang menjadi jiwa manusia sejati, dalam Wirid Hidayat Jati adalah Roh Idlafi.
d. Bratakesawa
Ajaran ketuhanan dalam Bratakesawa ini masih sebatas mencakup personal, sehingga bagi Bratakesawa Tuhan tidak dapat di bayangkan atau digambarkan. Yang jelas dalam Bratakesawa proses penciptaan manusia (alam semesta) ini melalui emanasi. Maka Purusha itu bentuk pengejawantahan Tuhan Allah di alam dhahir ini (hulul) atau Jiwatman dalam bahasa Hinduisme yaitu Atman yang telah menyatu dan bersemayam dalam manusia. Begitu juga dalam Serat Wirit Hidayat Jati bahwa atman atau atma (hayyu) adalah hakikat Dzat yang pasti paling dahulu yang menjadi wahana alam Ahadiyat yang menjadi cikal-bakal kehidupan.Dan Iswara sendiri mempunyai peranan apabila Dia menyatu ke dalam bentuk yang dhahir (manusia/ alam). Kalau kita lihat pembagian Tuhan yang ada dalam ajaran Bratakesawa yaitu Purusha dan Iswara ini sama halnya dengan bembahasan tentang Dzat dan sifat Tuhan dan Wirid Hidayat Jati. Dan dalam proses penciptaan ini terpengaruh dalam martabat tujuh dalam Wirid Hidayat Jati ini. Seperti yang dikatan Bratakesawa dalam bukunya Kunci Swarga: “Ketahuilah oleh mu, semua orang itu, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, kaya maupun miskin, tanpa memandang bangsa maupun agamanya,..wujud hidupnya terdiri dari : 1. Disemayami Sang Halus; 2. Badan halus dengan peralatan yang halus; . Badan kasar (wadhag, jasmani) yang nampak ini dengan peralatannya yang jasmani (kasar) juga.” Ini sama halnya dalam Wirid Hidayat Jati tentang pembahasan unsur dalam manusia, baik yang bersifat rohani maupun jasmani.
Dari paparan di atas menunjukkan bagaimana pengaruh pemaham ketuhanan Ronggowarsito dalam Serat Wirid Hidayat Jati-nya yang sebenarnya banyak menyerap dari kitab-kitab yang menjadi pedoman orang Jawa. Misalnya, istilah-istilah ataupun ajaran yang terkadung di dalamnya telah terdapat berserakan dalam Serat Centhini (ini salah satu babon kitab etika orang Jawa). Kemudian kerangka pikiran tentang Tuhan dan penciptaan alam semesta (termasuk manusia) bersumber dari ajaran tasawuf yang berkembang sejak abad 17 di Aceh yaitu martabat tujuh, yang merupakan pengembangan dari ajaran tasawuf Ibnu Arabi.
Ajaran ontologi yang terdapat dalam berbagai aliran yang berada pada kitab, seperti Serat Dewarusi (Bima Suci), Suluk Syekh Siti Jenar,ajaran kebatinan Pangestu, SUBUD, Bratakesawa, Sumarah, dan sebagainya, cenderung mengunakan doktrin manunggaling kawulo lan Gusti sebagai rujukan untuk melegitimasi keabsahan alirannya di kalangan penganut kejawen (Kejawen). Sehingga pada saat ini doktrin Ronggowarsito telah kehilangan wajah Islmanya menjadi wajah kejawen yang telah meleceng jauh dari rel Islam, meski tidak semua penganut Kejawen meninggalkan wajah Islam murni.
Dalam hal ini penulis melihat ada kelebihan dan kekurangan dari penganut Kejawen. Kelebihan dari penganut Kejawen, yaitu di mana mereka
memegang teguh apa yang menjadi falsafat hidup mereka (aja dumeh, aja kagetan, aja Gumunan), dari segi hubungan dengan sesama manusia dan alam semesta sangat di jaga. Adapun bagi penulis yang menjadi kekurangan dari penganut Kejawen, di mana mereka lebih menitiktekankan pada sesuatu yang bersifat batin. Sebab bagi mereka Tuhan ada berada dalam diri kita yang disimbolkan dalam tarikan nafas kita yaitu hu. Selagi kita bisa bernafas itu menunjukkan kita masih hidup dan itu menjadi tali pendekatan dengan Sang Maha Hidup (hayyu). Mereka menafikan hubungan dengan Tuhan dengan fisik (syariat), karena mereka sering melihat sendiri banyak masyarakat yang menjalankan tuntunan syariat tapi hanya sebatas mengerjakan, dalam artian sebatas kulit luarnya, ini memang menjadi ‘sentilan’ bagi mereka yang hanya sebatas mengerjakan ibadah yang nampak saja (ingin dilihat, tanpa penghayatan).
Tuhan itu suci, jadi yang dapat menghadapnya yaitu jiwa yang suci (ruh) bukan badan yang kotor. Mereka menganalogikakan, ketika kita makan buah rambutan maka kita tidak langsung memakannya, akan tetapi mengupas kulitnya, karena yang dimakan itu dalamnya bukan kulitnya.
Inilah yang menurut hemat penulis menjadi salah satu kelemahan atau kekurangn dari Kejawen, padahal kalau kita melihat kembali proses penciptaan manusia, di mana manusia itu terbagi manjedi dua yaitu raga (fisik) yang tercipta dari empat unsur; tanah, udara, api, air dan yang bersifat kasat mata yaitu ruh. Ruh itu sendiri suci karena percikan dari Tuhan. Sedangkan Tuhan menciptakan segala sesuatu pasti mempunyai maksudnya. Karena jasad ini terbuat dari yang bersifat materi, maka untuk memenuhi kebutuhannya Tuhan menciptakan segala sesuatu dari perut bumi (alam semesta) karena wadah (fisik) manusia dari sana. Sedangkan ruh itu langsung berasal dari Tuhan, maka untuk memenuhi kebutuhannya diambil langsung dari Tuhan yaitu berupa aturan-aturan yang langsung dari Tuhan (syariat-Nya). Seperti apa yang di katan oleh filsuf Yunani yaitu Plato, dia mengatakan bahwa manusia itu terdiri dari dua bersifat kebendaan (materi) dan bersifat ruh. Jika seseorang condong mengarah kebendaan maka tunggulah kehancurannya. Tetapi ketika dia condong ke arah ruhani maka dia akan mencapai kebahagiaan. Akan tetapi karena ruhani bersifat metafisik, maka pendekatannya melalui pendekatan spiritual yang itu sangatlah sulit ditempuh karena akan banyak rintangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar