Kamis, 18 Desember 2014

FILSAFAT : kota cilegon



KOTA CILEGON


Peta Kota Cilegon beserta Potensi-Potensinya

1.      ASAL-USUL KOTA CILEGON
Sejarawan Indonesia, Sartono Kartodirdjo dalam bukunya “Pemberontakan Petani Banten 1888”, menyebutkan sebelum abad 16, daerah Cilegon merupakan tanah rawa yang belum banyak dirambah dan dihuni orang. Arti kata " Cilegon " sendiri berasal dari kondisi alam Cilegon tersebut yang banyak rawa-rawa.
Kemudian pada masa kerajaan Banten di bawah Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672) dilakukan pembukaan lahan pertanian di daerah Serang dan Cilegon, dengan merubah rawa menjadi persawahan. Sejak itu banyak pendatang yang menetap di perkampungan kecil Cilegon.
Penduduk Cilegon, menurut Sartono, merupakan keturunan orang-orang Jawa yang datang dari Demak dan Cirebon. Sesuai berjalannya waktu, mereka ini kemudian berbaur dengan orang-orang Sunda, Bugis, Melayu, dan Lampung. Mereka adalah kelompok-kelompok perantau yang cerdas, lebih sadar diri dalam hal agama, fanatik, agresif, dan bersemangat memberontak.
Berbeda dengan daerah lainnya di Banten, saat itu di Cilegon hampir tidak terdapat ciri-ciri peradaban Hindu-Jawa seperti gelar keturunan atau kebangsawanan yang mencirikan kasta-kasta sosial. Selain itu penetrasi Islam sangat mendalam.

·         CATATAN SEJARAH KOTA CILEGON :
- Tahun 1651 : 
Cilegon masih merupakan sebuah kampung kecil dan pada masa itu Cilegon masih berupa rawa dan belum banyak didiami banyak orang. Namun sejak masa Kerajaan Banten dibawah Sultan Ageng Tirtayasa (Abdul Fatth) yang memerintah pada tahun 1651 - 1672, dilakukan pembukaan daerah persawahan di Serang dan Cilegon, maka sejak saat itu banyak pendatang yang datang dan menetap di Cilegon sehingga masyarakat cilegon sudah menjadi heterogen

- Tahun 1816 :
Cilegon dibentuk menjadi District (kewedanaan). Sejak saat itu perkembangan Cilegon menjadi sangat pesat yang semula dari perkampungan kecil menjadi kewedanaan. Kantor District Cilegon (Kewedanaan Cilegon) masih ada dengan berdiri kokoh dan saat ini digunakan untuk Rumah Dinas Walikota Cilegon dengan nama Gedung Negara. Pendidikan yang berbasis Islam yang menonjol yaitu perguruan Al-Khairiyah dan Madrasah Al-Jauharotunnaqiyah.

- Tahun 1962 : 
Di Cilegon berdiri Pabrik Baja TRIKORA, kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 35 tanggal 31 Agustus 1970 nama Pabrik Baja TRIKORA diganti menjadi Pabrik Baja PT. Krakatau Steel Cilegon berikut anak perusahaannya.

- Tahun 1986 :
Cilegon menjadi Kota Administratif berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 40 tahun 1986 tentang Pembentukan Kota Administratif Cilegon, dengan luas wilayah 17.550 Ha.



- Tahun 1999 :
Cilegon menjadi kotamadya berdasarkan Undang-Undang No. 15 Tahun 1999 tentang pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan Kotamadya Daerah Tingkat II Cilegon. Selanjutnya sesuai dengan Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, Kotamadya menjadi Kota dengan demikian Kotamadya Cilegon menjadi Kota Cilegon.

2.      Peristiwa perlawanan yang mengesankan pada awal abad 19
            Peristiwa Geger Cilegon, yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888. Peristiwa tersebut dipimpin oleh para alim ulama. Diantaranya adalah : Haji Abdul karim, Haji Tubagus Ismail, Haji Marjuki, dan Haji Wasid. Sepulangnya Haji Abdul Karim dari Makkah, beliau banyak mengajarkan tarekat di kampungnya, Lempuyang. Selain itu beliau juga menanamkan nasionalisme kepada para pemuda untuk melawan para penjajah yang kafir. Sementara itu KH. Wasid yang pernah belajar pada Syekh Nawawi Al Bantani mengajarkan ilmunya di pesantrenya di Beji-Bojonegara. Bersama teman seperjuangannya yakni : Haji Abdurrahman, Haji Akib, Haji Haris, Haji Arsyad Thawil, Haji Arsyad Qashir dan Haji Ismail, mereka menyebarkan pokok-pokok ajaran Islam ke masyarakat.
            Pada saat itu Banten sedang dihadapi bencana besar. Setelah meletusnya Gunung Karakatau pada tahun 1883 yang merenggut 20.000 jiwa lebih, disusul dengan berjangkitnya wabah penyakit hewan (1885) pada saat itu masyarakat banyak yang percaya pada tahayul dan perdukunan. Di desa Lebak Kelapa terdapat satu pohon besar yang sangat dipercaya oleh masyarakat memiliki keramat. Berkali-kali H. Wasid memperingati masyarakat. Namun bagi masyarakat yang tidak mengerti agama, fatwanya itu tidak diindahkan. H. Wasid tidak dapat membiarkan kemusrikan berada didepan matanya. Bersama beberapa muridnya, beliau menebang pohon besar tersebut. Kejadian inilah yang menyebabkan beliau dibawa ke pengadilan (18 Nopember 1887), beliau didenda 7,50 gulden. Hukuman tersebut menyinggung rasa keagamaan dan harga diri murid-murid dan para pendukungnya. Selain itu, penyebab terjadinya peristiwa berdarah, Geger Cilegon adalah dihancurkannya menara langgar di desa Jombang Wetan atas perintah Asisten Residen Goebel. Goebel menganggap menara tersebut mengganggu ketenangan masyarakat, karena kerasnya suara. Selain itu Goebel juga melarang Shalawat, Tarhim dan Adzan dilakukan dengan suara yang keras. Kelakuan kompeni yang keterlaluan membuat rakyat melakukan pemberontakan.
             Pada tanggal 7 Juli 1888, diadakan pertemuan di rumahnya Haji Akhia di Jombang Wetan. Pertemuan tersebut untuk mematangkan rencana pemberontakan. Pada pertemuan tersebut hadir beberapa ulama dari berbagai daerah. Diantaranya adalah : Haji Said (Jaha), Haji Sapiudin (Leuwibeureum), Haji Madani (Ciora), Haji Halim (Cibeber), Haji Mahmud (Terate Udik), Haji Iskak (Saneja), Haji Muhammad Arsad (Penghulu Kepala di Serang) dan Haji Tb Kusen (Penghulu Cilegon). Pada hari Senin tanggal 9 Juli 1888 diadakan serangan umum. Dengan memekikan Takbir para ulama dan murid-muridnya menyerbu beberapa tempat yang ada di Cilegon. Pada peristiwa tersebut Henri Francois Dumas – juru tulis Kantor Asisten residen – dibunuh oleh Haji Tubagus Ismail. Demikian pula Raden Purwadiningrat, Johan Hendrik Hubert Gubbels, Mas Kramadireja dan Ulrich Bachet, mereka adalah orang-orang yang tidak disenangi oleh masyarakat.Cilegon dapat dikuasi oleh para pejuang “Geger Cilegon”. Tak lama kemudian datang 40 orang serdadu kompeni yang dipimpin oleh Bartlemy. Terjadi pertempuran hebat antara para pejuang dengan serdadu kompeni. hingga akhirnya pemberontakan tersebut dapat dipatahkan. Haji Wasid dihukum gantung. Sedangkan yang lainnya dihukum buang. Diantaranya adalah Haji Abdurrahman dan Haji Akib dibuang ke Banda. Haji Haris ke Bukittinggi Haji Arsyad thawil ke Gorontalo, Haji Arsyad Qashir ke Buton, Haji Ismail ke flores, selainnya dibuang ke Tondano, Ternate, Kupang, Manado, Ambon dan lain-lain. (Semua pemimpin yang dibuang berjumlah 94 orang).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar